tag:blogger.com,1999:blog-34538994345001832572014-10-02T22:59:13.411-07:00Cerita Rakyat NusantaraIndonesia Folk TalesCerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comBlogger278125tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-67525637174458035932013-04-25T04:46:00.000-07:002013-04-25T04:46:10.198-07:00Padi Sebesar Kelapa<div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;">Dahulu kala di daerah Teluk Pandak terdapatlah sebuah padi sebesar buah kelapa. Masyarakat setempat tidak pernah tahu dari mana asalnya. Padi itu ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar rumahnya. Padi yang ditemukan itu bukanlah padi lengkap dengan batangnya, namun hanya sebuah biji padi sebesar kelapa lengkap dengan cangkangnya. Penduduk Teluk Pandak percaya bahwa padi itu merupakan titisan dari Dewi Sri. Mereka seperti mendapatkan berkah dengan turunnya padi itu ke tempat mereka.</div><div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"><br /></div><div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;">Saat musim tanam tiba, masyarakat membawa padi sebesar kelapa tersebut ke sawah yang akan ditanami. Setelah padi di tanam, masyarakat berkumpul untuk melakukan doa bersama agar padi yang ditanam mendapat berkah dari Tuhan. Sekelompok muda-mudi membawakan tari Dewi Sri. Tarian itu diiringi oleh lagu yang bersyair doa dan pujian kepada Tuhan. Lagu itu mereka namakan dengan Nandung. Kulit padi mereka pukul-pukul sebagai gendang pengiring tarian Dewi Sri.</div><div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;">Waktu terus berjalan. Musim panen pun tiba. Masyarakat kembali berkumpul dan bersama-sama melakukan panen. Panen pertama ini mereka lakukan hanya untuk sebagian kecil padi yang akan digunakan untuk acara makan bersama. Saat akan menuai padi, mereka menimang-nimang padi titisan Dewi Sri itu sambil melantunkan puji-pujian kepada Tuhan atas keberhasilan tanaman mereka. Padi yang sudah dituai kemudian diirik dengan kaki. Setelah itu padi dijemur. Setelah menjadi beras, padi itu dimasak dan dipersiapkanlah sebuah acara makan bersama. Dalam acara itu padi sebesar kelapa itu kembali dibawa. Sebelum makan mereka melagukan syair-syair yang intinya adalah syukuran, doa mohon keberkahan, dan keselamatan kepada Tuhan. Acara makan pun selesai. Keesokan harinya masyarakat secara bersama-sama memanen seluruh padi.</div><div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;"><br /></div><div style="font-family: Verdana,sans-serif; text-align: justify;">Setelah seluruh padi selesai dipanen, tumbuhlah anak padi dari bekas batang padi yang tinggal. ini lebih kecil. Mereka menamakan padi yang lebih kecil itu dengan Salibu. Padi itu ukurannya lebih kecil dari ukuran padi biasa. Salibu itu kemudian di panen. Setelah dipisahkan dari cangkangnya, Salibu kemudian digonseng dan ditumbuk hingga berbentuk emping. Proses menggonseng hingga menumbuk Salibu dilakukan oleh muda-mudi dari sore hingga malam hari. Selama proses itu tidak jarang ada muda-mudi yang akhirnya berjodoh. Emping dari Salibu kemudian dimakan bersama-sama dalam acara pernikahan muda-mudi yang berjodoh itu.</div><br /><br /><div style="color: #741b47;"><b>sumber :</b></div><div style="color: #741b47;">http://yayasanlangit.blogspot.com</div><div style="color: #741b47;">http://sayaindonesia.com/viewtopic.php?f=765&amp;t=894&amp;sid=681e6b8eca389fbb453b1796ac17f6bc</div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/OBo366IAhn0" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comJambi, Indonesia-1.4851831 102.43805810000003-2.5074161 100.73522310000004 -0.46295010000000003 104.14089310000003http://folktalesnusantara.blogspot.com/2012/03/padi-sebesar-kelapa.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-33669752462673680442013-04-15T16:39:00.000-07:002013-04-15T16:39:15.382-07:00Putri Kandita<b style="background-color: white; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19px; text-align: justify;"><span style="line-height: 18px;"><span style="font-size: large;"><br /></span></span></b><b style="background-color: white; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19px; text-align: justify;"><span style="line-height: 18px;"><span style="font-size: large;">Cerita Rakyat dari Bogor</span></span></b><br /><b style="background-color: white; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 18px;">Diceritakan kembali oleh Samsuni</span></b><br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-yyj8amV6ROs/URdBM-3qkTI/AAAAAAAAn4s/zZq2vmE7CQc/s1600/putri+kandita.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-yyj8amV6ROs/URdBM-3qkTI/AAAAAAAAn4s/zZq2vmE7CQc/s400/putri+kandita.jpg" width="276" /></a></div><br />Alkisah, di daerah <b>Pakwan</b> (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama <b>Sri Baduga Maharaja</b> atau <b>Prabu Siliwangi</b> yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama <b>Putri Kandita.&nbsp;</b><br /><br />Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.<br /><br />Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.<br /><br />“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.<br /><br />“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.<br /><br />Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.<br /><br />“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.<br /><br />“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.<br /><br />“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.<br /><br />Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.<br /><br />Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.<br /><br />Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.<br /><br />Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.<br /><br />“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.<br /><br />“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.<br /><br />“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.<br /><br />Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.<br /><br />“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.<br /><br />Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.<br /><br />“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.<br /><br />Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.<br /><br />“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.<br /><br />Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.<br /><br />“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.<br /><br /><b><span style="font-size: large;">Cerita Rakyat dari Bogor</span></b><br /><b style="background-color: white; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 18px;">Diceritakan kembali oleh Samsuni</span></b><br /><br />Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.<br /><br />Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu. Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya. Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.<br /><br />Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri. Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.<br /><br /><br /><div style="text-align: center;">===========</div><br /><br /><br /><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;">Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui wangsit yang diterimanya.</div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><br /></div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><div class="separator" style="clear: both; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: center;"></div><b>&nbsp;Pesan moral lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki seperti para selir dapat melakukan kejahatan apa saja demi mencapai cita-citanya. Para selir tega mengusir Putri Kandita dari istana karena merasa iri terhadap sang Putri sebagai calon penerus tahta Kerajaan Pakuan Pajajaran.&nbsp;</b></div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><br /></div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;">(Samsuni/sas/205/10-10)</div><div style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;"><br /></div><br /><span style="font-size: xx-small;"><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19px; text-align: justify;">source :&nbsp;</span><a href="http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=217&amp;l=putri-kandita" style="background-color: white; color: #009eb8; display: inline; font-family: 'Helvetica Neue Light', HelveticaNeue-Light, 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; line-height: 19px; outline: none; text-align: justify; text-decoration: initial;">Putri Kandita</a></span><br /><br /><br /><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/JPio54GrnSc" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/putri-kandita.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-65300950425364708922013-04-06T10:31:00.000-07:002013-04-06T10:31:40.422-07:00Karang Bolong<div><br /></div><b><span style="color: #660000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Banten</span></b><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><br /><br /><br /><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-6RXsEXRo5zg/UR77MHzD1bI/AAAAAAAAohE/aCuNNtqo8lQ/s1600/karang+bolong+banten.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-6RXsEXRo5zg/UR77MHzD1bI/AAAAAAAAohE/aCuNNtqo8lQ/s320/karang+bolong+banten.gif" width="315" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="color: #e69138; font-size: x-large;"><b>B</b></span>eberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana.</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh."&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat istana dengan yakin.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-lxasggOm7eY/UR776NkhEyI/AAAAAAAAohQ/nX81kPpY6dQ/s1600/karang+bolong+banten.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-lxasggOm7eY/UR776NkhEyI/AAAAAAAAohQ/nX81kPpY6dQ/s320/karang+bolong+banten.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku."&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-a-ewIiDWufo/UR78bHoOKgI/AAAAAAAAohY/KrTZ6Z1Y51Y/s1600/karang+bolong+banten.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-a-ewIiDWufo/UR78bHoOKgI/AAAAAAAAohY/KrTZ6Z1Y51Y/s320/karang+bolong+banten.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati.</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Cepat buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-fFhP2-YfG4s/UR79Qd7AGRI/AAAAAAAAoho/svH3souiUyM/s1600/karang+bolong+banten.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-fFhP2-YfG4s/UR79Qd7AGRI/AAAAAAAAoho/svH3souiUyM/s320/karang+bolong+banten.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="background-color: white; color: white; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;">Sumber :&nbsp;http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=94&amp;Itemid=49</span><br /><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/_2754K3I6LE" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/karang-bolong.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-64762079217204021412013-04-01T06:56:00.000-07:002013-04-01T06:56:13.947-07:00Banta Seudang<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Aceh</b></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif;">Genre : Dongeng</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-daXr0xhPTn8/UTCQQ0PKG6I/AAAAAAAAqgI/sWuSit1ef8o/s1600/Banta+Seudang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="590" src="http://1.bp.blogspot.com/-daXr0xhPTn8/UTCQQ0PKG6I/AAAAAAAAqgI/sWuSit1ef8o/s640/Banta+Seudang.jpg" width="640" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #cfe2f3; font-size: x-large;">A</span>lkisah, di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang permaisuri yang sedang hamil tua. Suatu ketika, sang Raja pergi berburu binatang ke hutan. Ketika itulah permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan di istana, dan diberinya nama Banta Seudang. Namun, malang nasib bagi sang Raja, karena ia tidak bisa melihat wajah tampan putranya. Kedua matanya buta terkena ranting kayu saat berburu di hutan. Sejak saat itu, ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas kerajaan lagi. Oleh karena Banta Seudang masih bayi, maka tahta kerajaan ia serahkan untuk sementara kepada adik kandungnya. Namun, sang Adik yang baru diangkat menjadi raja itu sangat licik dan serakah. Ia membuatkan sebuah rumah agak jauh dari istana untuk tempat tinggal kakaknya bersama istri dan Banta Seudang. Raja baru itu setiap hari mengirim bantuan makanan untuk kebutuhan sehari-hari sang Kakak bersama keluarganya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Waktu terus berjalan. Banta Seudang tumbuh menjadi remaja yang tampan. Ia pun mulai bertanya-tanya kepada ibunya tentang siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, padahal ayahnya buta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” tanya Banta ingin tahu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari, sang Ibu bersama Banta Seudang pergi menghadap sang Raja. Di hadapan Raja, sang Ibu memohon kepada Raja untuk membantu Banta Seudang agar bisa bersekolah. Namun, permohonan sang Ibu ditolak oleh sang Raja.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sedepa minta sejengkal pula. Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar. Maka timbullah pikirannya untuk mencari obat mata untuk ayahnya. Jika kelak ayahnya bisa melihat lagi, tentu sang Ayah bisa mencari nafkah sendiri dan dapat membantu biaya sekolahnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari, Banta Seudang menyampaikan niatnya kepada ibunya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta. Dengan senang hati, sang Ayah pun merestui perjalanan Banta mencari obat.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, dengan bekal seperlunya, berangkatlah Banta Seudang untuk mencari obat. Ia berjalan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia pun tiba di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar. Di tengah hutan itu, ia menemukan sebuah balai. Ia pun memutuskan untuk melepas lelah di balai itu. Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ternyata benar. Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah menyaksikan peristiwa itu, Banta kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat. Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Betapa senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu. Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu. Setelah mendapat isyarat dari gajah itu, Banta pun segera naik ke atas punggung gajah. Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang. Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi. Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo. Ia tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali. Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air. Oleh karena itu, Banta harus meminta bantuan Mak Toyo untuk mendapatkan bunga ajaib itu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu malam, Jin Pari bersama Banta Seudang mendatangi tempat tinggal Mak Toyo. Perempuan penjaga sungai itu pun bersedia membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu, tapi dengan satu syarat.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai dan berenang sambil tertawa bersuka ria.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika hari menjelang sore, ketujuh putri raja selesai mandi. Mereka pun segera mengenakan baju terbang masing-masing lalu terbang ke angkasa. Setelah mereka pergi, Mak Toyo segera turun ke sungai lalu menepuk air tiga kali. Setelah itu, muncullah bunga bangkawali di atas permukaan air sungai. Banta Seudang pun segera terjun ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia berenang ke tengah sungai untuk mengambil bunga bangkawali tersebut dan kemudian kembali ke tepi sungai.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk ayahmu!” kata Mak Toyo.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan hari, Banta Seudang berpamitan kepada Mak Toyo dan Jin Pari. Namun karena mengetahui perjalanan yang akan ditempuh Banta Seudang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Maka Toyo dan Jin Pari pun bersepakat untuk mengantar Banta Seudang. Jin Pari dan Banta Seudang terbang dengan menggunakan baju terbang, sedangkan Mak Toyo menunggangg gajah putih. Dalam waktu sehari, mereka pun tiba di negeri Banta Seudang ketika hari mulai sudah gelap. Banta Seudang yang melihat rumahnya sepi dan tampak gelap, segera berteriak memanggil ibunya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ibu.. Ibu! Banta sudah pulang membawa obat mata untuk ayah!” teriak Banta Seudang dari depan rumahnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ya, masuklah anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kenapa gelap begini? Di mana lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Beberapa saat kemudian, lampu minyak itu pun menyala. Sang Ibu segera memeluk Banta Seudang karena sudah lama sekali merindukannya. Banta Seudang pun memperkenalkan Mak Toyo dan Jin Pari kepada kedua orangtuanya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk ayah,” jelas Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bagaimana keadaan ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar pertanyaan Banta, sang ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah lagi membantu mereka. Terpaksalah sang ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita ibunya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Benar, anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Sabar, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang ayah.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun membuka rahasia mengenai siapa diri mereka sebenarnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ketahuilah, anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja. Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah. Mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya. Demikian pula Mak Toyo dan Jin Pari yang setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, juga bersedia ikut membantu.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang. Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih. Sesampainya di istana, alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang kakak bersama rombongannya. Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hai, Adikku! Engkau memang adik yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ha… ha… ha…! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja. Oleh karena mereka mengetahui permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja. Dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya. Para pengawal raja yang melihat peristiwa itu, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika sadarkan diri, sang Raja bersama keluarganya diusir dari istana. Ayah Banta Seudang pun kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu. Akhirnya, Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana dan ia pun bisa bersekolah. Sementara Mak Toyo dan Jin Pari diangkat sebagai pengawal istana.</span></div><div style="text-align: center;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">* * *</span></div><div style="text-align: center;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Demikian cerita Banta Seudang dari Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat berbakti kepada orangtua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras dan akibat buruk dari sifat tidak tahu diri.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pertama, keutamaan sifat berbakti kepada orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Banta Seudang yang telah berusaha menyembuhkan mata ayahnya.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</span></div><blockquote class="tr_bq"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">apa tanda Melayu jati,</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">kepada ibu bapa ia berbakti</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">apa tanda Melayu menakah,</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">memelihara ibu bapa tahan bersusah</span></blockquote><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kedua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Banta Seudang. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia berhasil menyembuhkan mata ayahnya.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</span></div><blockquote class="tr_bq"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">wahai ananda kesayangan ayah,</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">bekerja jangan ingatkan susah</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">tahankan olehmu penat dan lelah</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">supaya kelak hidupmu menakah</span></blockquote><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketiga, akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Pakcik Banta Seudang. Ia diberi kekuasaan untuk menduduki tahta kerajaan, malah justru mengabaikan kakaknya. Akibatnya, ia pun diusir dari istana ketika mata kakaknya sembuh dari kebutaan.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:[1]</span></div><blockquote class="tr_bq"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">apa tanda orang celaka,</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">tak tahu diri besar kepala</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">bila bercakap mengada-ada</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">bila bekerja tidak menyudah</span></blockquote><blockquote class="tr_bq"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">apa tanda orang terbuang,</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">tak tahu diri iman pun kurang</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">bergaul tidak tahu menenggang</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">berjalan seiring ia menendang</span></blockquote><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">[1]Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.</span></div></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/rvdl5lJStq4" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/Bantaseudang.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-52418470589098255752013-03-29T20:56:00.000-07:002013-03-29T20:56:22.404-07:00Asal Usul Pohon Sagu dan Palem<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div align="justify"><br /><b><span style="color: #7f6000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah</span></b><br /><br /><br /><i>Pohon sagu dan palem merupakan jenis tanaman dataran rendah tropik yang banyak ditemukan tumbuh liar di kawasan hutan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal usul kedua jenis pohon ini berasal dari tubuh manusia atau penjelmaan manusia. Hal ini dikisahkan dalam sebuah legenda yang hingga kini masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat setempat. Bagaimana manusia dapat menjelma menjadi pohon sagu dan palem? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem berikut ini!</i><br /><br /><br /><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-w8BACHwQV34/USwZ43lEDbI/AAAAAAAApvs/BuVQ-tDFFu4/s1600/pohon+sagu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" height="426" src="http://2.bp.blogspot.com/-w8BACHwQV34/USwZ43lEDbI/AAAAAAAApvs/BuVQ-tDFFu4/s640/pohon+sagu.jpg" width="640" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">Pohon Sagu (latin :&nbsp;<span style="background-color: white; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; line-height: 16px; text-align: left;"><i>Metroxylon sago</i> Rottb.)</span></span></td></tr></tbody></table><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #fff2cc; font-size: x-large;"><i>A</i></span>lkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelakinya. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir hutan Dolo. Hidup mereka sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan dan hasil hutan lainnya yang tersedia di sekitar mereka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Semakin lama sang Suami pun merasa bosan hidup dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, timbullah niatnya ingin membuka lahan perkebunan yang akan ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija dan sayur-sayuran. Suatu hari, ia pun menyampaikan niat baiknya tersebut kepada istrinya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Dik! Bagaimana kalau kita berkebun saja? Aku sudah bosan hidup seperti ini terus,” ungkap sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Alangkah senang hati sang Istri mendengar rencana suaminya. Ia merasa bahwa suaminya akan berubah untuk tidak bermalas-malasan bekerja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bang, kita mau berkebun di mana? Bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk berkebun?” tanya sang Istri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tenang, Dik! Besok Abang akan membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan,” jawab sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah kalau begitu, aku setuju,” kata sang Istri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan Dolo. Setelah beberapa lama menyusuri hutan, ia pun menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Sementara itu, sang Istri bersama anaknya menunggu di rumah sambil menyiangi rerumputan yang tumbuh di pekarangan rumah agar ular tidak mengganggu mereka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk persiapan makan malam mereka. Istrinya pun menyambutnya dengan penuh harapan. Usai menyuguhkan minuman, sang Istri bertanya kepada suaminya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bang, bagaimana hasilnya? Apakah Abang sudah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan?”</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Iya, Dik! Abang sudah menemukan sebidang tanah yang subur,” jawab sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar jawaban suaminya, sang Istri merasa gembira. Ia berharap dengan adanya pekerjaan baru tersebut kehidupan keluarga mereka akan menjadi lebih baik suatu hari kelak.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“O iya, Bang! Kalau Adik boleh tahu, di mana letak lahan itu?” sang Istri kembali bertanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Letaknya tidak jauh dari rumah kita,” jawab sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Syukurlah kalau begitu, Bang! Kita tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya. Lalu, kapan Abang akan memulai membuka lahan?” tanya sang Istri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kalau tidak ada aral melintang, besok Abang akan memulainya,” jawab sang Suami dengan penuh keyakinan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap. Sang Istri pun menyiapkan makan malam seadanya. Usai makan malam, keluarga miskin tersebut beristirahat setelah hampir seharian bekerja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan sambil membawa parang dan cangkul. Sesampainya di tempat yang akan dijadikan lahan perkebunan, tiba-tiba muncul sifat malasnya. Ia bukannya membabat hutan, melainkan duduk termenung sambil memerhatikan pepohanan yang tumbuh besar dan hijau di hadapannya. Sementara itu, istri dan anaknya sedang menunggu di rumah dengan penuh harapan. Sang Istri mengharapkan agar suaminya segera membuka lahan perkebunan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Anakku! Jika Ayahmu telah selesai membuka lahan perkebunan, kita bisa membantunya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di kebun,” ujar sang Ibu kepada anaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bolehkah aku ikut membantu, Ibu?” tanya anaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tentu, Anakku! Ayahmu pasti sangat senang jika kamu juga ikut membantunya,” jawab sang Ibu sambil tersenyum.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan. Ia pun disambut oleh istrinya dengan suguhan air minum. Setelah suaminya selesai minum dan rasa capeknya hilang, sang Istri pun kembali menanyakan tentang hasil pekerjaannya hari itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bagaimana hasilnya hari ini, Bang?”</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Belum selesai, Dik!” jawab sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, sang Suami kembali ke hutan. Setiba di sana, ia pun kembali hanya duduk termenung. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Begitupula jika ditanyai oleh istrinya tentang hasil pekerjaannya, ia selalu menjawab “belum selesai”.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Oleh karena penasaran ingin melihat hasil pekerjaan suaminya, suatu siang sang Istri menyusulnya ke hutan tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati suaminya duduk termenung sambil bersandar di bawah sebuah pohon. Alangkah kecewanya sang Istri, karena lahan perkebunan yang diharapkannya tidak terwujud.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bang! Mana lahan perkebunan itu?” tanya sang Istri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar pertanyaan istrinya itu, sang Suami bukannya menjawabnya. Akan tetapi, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian langsung pulang dengan perasaan marah. Rupanya, ia merasa tersinggung karena istrinya menyusul ke hutan. Mengetahui suaminya marah, sang Istri pun mengikutinya dari belakang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sesampai di rumah, kemarahan sang Suami semakin memuncak. Ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Sang Istri yang tidak menerima kelakuan suaminya itu langsung berlari menuju ke hutan sambil menangis. Sesampainya di tengah hutan, ia langsung menceburkan diri ke dalam sebuah telaga.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sementara itu, sang Suami yang baru menyadari akibat dari kelakuannya segera mengajak anaknya untuk menyusul istrinya ke tengah hutan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ayo Anakku, kita susul Ibumu ke hutan!” ajak sang Ayah sambil menarik tangan anaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baik, Ayah!” jawab anaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sesampainya di tengah hutan, tidak jauh dari hadapan mereka terlihatlah sang Istri berada di tengah telaga. Tubuhnya sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu. Melihat peristiwa itu, ayah dan anak itu pun segera berlari mendekati telaga.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maafkan aku, Dik! Kembalilah!” teriak sang Suami.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ibu..., Ibu.... Aku ikut!” teriak anaknya sambil menangis.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kamu di sini saja, Anakku! Tidak usah ikut ibumu, sebentar lagi dia kembali,” bujuk sang Ayah.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tidak Ayah! Aku mau ikut Ibu,” kata anaknya meronta-ronta.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sang Ayah terus berusaha membujuk anaknya agar berhenti menangis. Namun, sang Anak tetap menangis dan bersikeras ingin ikut ibunya. Saat sang Ayah lengah, si anak pun berlari dan terjun masuk ke dalam telaga. Maka seketika itu pula, ia menjelma menjadi sebatang pohon sagu seperti ibunya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah melihat peristiwa itu, barulah sang Suami sadar dan menyesali semua perbuatannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maafkan aku, Istriku! Maafkan aku, Anakku! Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada kalian,” ucapnya sambil menangis berderai air mata.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Berulang kali sang Suami meminta maaf kepada istri maupun kepada anaknya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal kemudian tiadalah guna. Istri dan anaknya telah menjelma menjadi pohon sagu. Ia pun tidak ingin hidup sendirian tanpa istri dan anaknya. Akhirnya, ia pun ikut terjun ke dalam telaga itu. Ketika itu pula ia pun menjelma menjadi sebatang pohon palem.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div style="text-align: center;"><span style="font-family: inherit;">=======o0o======</span></div><br /><br /><br />Demikian cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem dari daerah Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk sifat malas bekerja dan sifat kasar langgar.<br /><br />Pertama, akibat buruk dari sifat malas bekerja. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku sang Suami yang suka menunda-nunda melakukan pekerjaannya. Akibatnya, dia dan keluarganya senantiasa hidup miskin. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:<br /><blockquote class="tr_bq"><i>berkayuh berat pengayuh,</i><i>berladang berat parang</i><i>bekerja mengeluh,</i><i>makan berpeluh</i></blockquote><br />Kedua, akibat buruk sifat kasar langgar. Sifat ini tercermin pula pada sikap dan perilaku sang Suami yang berlaku kasar terhadap istrinya. Akibat perbuatannya tersebut, istri dan anaknya bahkan dirinya sendiri menjelma menjadi pohon sagu dan palem. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:<br /><blockquote class="tr_bq"><i>apa tanda kasar langgar,</i><i>lidah tajam mulut pun kasar</i><i>binasa diri kasar langgar,</i><i>binasa badan kurang ajar</i></blockquote><br /><i>(Samsuni/sas/104/12-08)</i><br /><br /><br /><br /><b>Sumber:</b><br /><span style="font-size: x-small;">Isi cerita diadaptasi dari Muhammad Jaruki, Atisah.2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.</span><br /><span style="font-size: x-small;">Anonim. “Sulawesi Tengah,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah, dikases tanggal 04 Desember 2008).</span><br /><span style="font-size: x-small;">Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bapedda Tingkat I Riau.</span><br /><span style="font-size: x-small;">--------. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.</span></div><div align="justify"><span style="font-size: x-small;">http://melayuonline.com/literature/?a=VFBYIC9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=</span><br /><br /></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/E3GJylx5FGE" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-usul-pohon-sagu-dan-palem.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-31466760024174516192013-03-24T20:56:00.004-07:002013-03-24T20:56:43.394-07:00Sundari Bungkah - Asal mula Pohon Enau<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><span style="font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Nusa Tenggara Barat</b></span><br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-mdJBT9GYo30/UU_KxthMQ-I/AAAAAAAAq70/MYu9YyGVBZc/s1600/Pohon+enau.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-mdJBT9GYo30/UU_KxthMQ-I/AAAAAAAAq70/MYu9YyGVBZc/s640/Pohon+enau.jpg" width="425" /></a></div><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc;"><span style="font-size: x-large;">P</span></span>ada zaman dahulu kala ada sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak bernama Dedara Nunggal. Ketika Dedara Nunggal menjelang dewasa, kedua orang tuanya bercerai. Sejak itu Dedara Nunggal tinggal bersama ayahnya. Namun, setelah ayahnya kawin lagi, ia mulai mengecap kehidupan pahit dan penuh dengan penderitaan. Ibu tirinya menganggap semua pekerjaan yang dilakukannya selalu salah. Dedara Nunggal pun sering bercekcok dengan ibu tirinya.<br /><br />Melihat anaknya selalu bertengkar dengan ibu tirinya, sang ayah pun menjadi kesal. Ia kemudian memarahi anaknya, “Anakku Dedara Nunggal, mengapa engkau selalu bercekcok dengan ibu tirimu. Kau memang anak yang nakal dan tebal telinga. Mulai saat ini, enyahlah dari rumah ini. Tinggallah bersama ibu kandungmu!”<br /><br />“Mengapa ayah sampai hati mengusirku. Bukankah aku darah daging ayah satu-satunya?” jawab Dedara Nunggal.<br /><br />“Pergi kataku. Jangan kau bicara lagi!” hardik ayahnya.<br /><br />“Baiklah ayah, aku akan tinggal bersama ibu,” kata Dedara Nunggal sambil berjalan meninggalkan rumah.<br /><br />Satu jam kemudian, tibalah Dedara Nunggal di rumah ibunya. Di sana ia hanya bertemu dengan ayah tirinya, karena ibunya sedang mencuci pakaian di perigi. Kepada ayah tirinya itu ia berkata, “Ayah, aku telah diusir dari rumah ayah kandungku. Bolehkah aku menetap di sini? Aku akan siap membantu segala pekerjaanmu, ayah.”<br /><br />“Ah, Dedara Nunggal. Mustahil anak perempuan semacam engkau dapat melakukan pekerjaanku. Kukira kau akan selalu menyantap ocehanku dan bukan nasi yang kau peroleh. Oleh karena itu, sebaiknya kembalilah kepada ayahmu. Aku tak sanggup mengurusmu di sini.”<br /><br />“Baiklah ayah. Bila ayah tak sanggup menolong, aku akan kembali kepada ayah kandungku.”<br /><br />“Ya, kembalilah!” jawab ayah tirinya.<br /><br />Dengan perasaan sedih, Dedara Nunggal akhirnya kembali pulang ke rumah ayah kandungnya. Namun, ketika sampai di depan rumah, dari serambi sang ayah sudah menghadang sambil berkata, “Mengapa kau kembali lagi?”<br /><br />“Maafkan aku ayah. Ayah tiriku tidak mengizinkan aku tinggal di rumahnya,” Jawab Dedara Nunggal.<br /><br />“Jadi kau mau kembali tinggal di rumah ini? Tunggulah, akan kumintakan persetujuan ibumu.”<br /><br />“Mengapa ayah harus meminta persetujuan ibu tiriku?”<br /><br />“Ayah tak mungkin memutuskan sendiri. Bukankah dia adalah isteriku?” Kata ayahnya sambil berjalan masuk ke rumah. Sampai di dalam, ia bertanya kepada isterinya, “Anakmu Dedara Nunggal ingin kembali tinggal bersama kita. Bagaimana pendapatmu?”<br /><br />“Ah, aku tak sanggup hidup serumah dengannya. Lebih baik kau usir lagi dia dari rumah ini. Mataku sudah sangat jemu melihatnya,” jawab isterinya.<br /><br />Sesudah itu suaminya keluar lagi dan berkata kepada anaknya, “Anakku Dedara Nunggal, ibumu tidak mau lagi menerimamu. Ayah sudah tak dapat berpikir lagi. Sekarang, pergilah kau dari rumah ini.”<br /><br />“Baiklah, kalau ayah sudah memutuskan seperti itu,” kata Dedara Nunggal sambil berjalan perlahan meninggalkan rumah ayahnya.<br /><br />Ia berjalan tanpa tujuan ke arah utara menyusuri Sungai Jangkok. Beberapa jam kemudian, sampailah ia di sebuah batu besar yang ada di tepi sungai itu. Di atas batu itulah ia akhirnya duduk melepaskan lelah sambil meratapi nasibnya, “Ah, mengapa demikian buruk suratan takdir atas hidupku. Ibu dan ayah membenciku. Mereka bahkan mengusirku. Sudah tak berarti lagi rasanya hidupku ini. Lebih baik aku menerjunkan diri ke sungai ini, agar tamatlah riwayatku dan tidak lagi mengotori dunia.” Lalu ia menceburkan diri ke dalam sungai.<br /><br />Saat seluruh tubuh Dedara Nunggal telah tenggelam di air, secara tiba-tiba ia berubah menjadi sebatang pohon dan kemudian hanyut di dibawa air sungai. Pohon itu hanyut ke arah hilir dan mengenai oleh seorang pemuda yang sedang mandi. Terkejut merasakan ada sebatang pohon aneh yang masih lengkap akar dan daunya mengenai tubuhnya, si pemuda berteriak, “Ah, siapakah yang menghanyutkan pohon ini? Tak punya perasaan, tak menghiraukan orang yang sedang mandi di hilir. Mengganggu saja!”<br /><br />Tiba-tiba ia mendengar suara, “Hai pemuda, tolonglah aku”<br /><br />“Eh, suara siapakah itu?” tanya pemuda itu agak terkejut karena tidak ada orang lain yang ada di dekatnya.<br /><br />“Akulah yang bersuara. Aku adalah pohon yang mengenai tubuhmu. Bila kau berkenan menolongku kelak aku akan membalas budi baikmu.”<br /><br />“Baiklah, tetapi siapa namamu?”<br /><br />“Namaku Dedara Nunggal.”<br /><br />Tanpa banyak berkata lagi, pohon itu segera dinaikkan ke darat kemudian ditanam di tepi sungai. Sesudah ditanam pemuda itu bertanya, “Siapakah kau sebenarnya, Dedara Nunggal?”<br /><br />“Engkaulah satu-satunya orang bersedia menolongku. Aku adalah makhluk malang yang tak dapat menguasai diri. Aku buang tubuhku ke Sungai Jangkok ini. Namun, atas kehendak Tuhan, tubuhku berubah bentuk menjadi sebatang pohon. Nah, sekarang aku harus berbuat kebaikan kepada umat manusia, sebab kukira sekaranglah tubuhku ini punya arti. Ketika aku masih berwajah manusia aku sama sekali tak berarti. Demikianlah riwayatku. Semua telah kuceritakan kepadamu.”<br /><br />“Lalu, bagaimana caramu berbuat kebaikan kepada umat manusia?” tanya pemuda yang bernama Teruna Nunggal itu.<br /><br />“Nanti apabila bungaku telah muncul, di saat itulah aku akan akan membalas budi baikmu yang telah rela menolongku. Dan, di saat itu pulalah aku akan berbuat kebaikan pada umat manusia”<br /><br />“Apa yang harus aku lakukan bila bungamu telah muncul?” tanya Teruna Nunggal.<br /><br />“Kalau aku sudah berbunga, sering-seringlah datang kemari. Panjatlah batangku dan ayunkanlah bungaku itu. Selanjutnya, pukullah batang bungaku dengan pelepah batang kelapa serta bacalah mantra ini:<br /><br /><i>O, meme, o, bapa</i></span><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Anta gini anta gina</span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Lilir ambika</span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Beang pianake mayusu</span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Ane madan Mas Sundari Muncar1</span></i><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Bila kau telah selesai melakukan hal itu, selipkanlah pemukul itu di antara batang bungaku dengan badanku. Itulah syarat yang harus kau lakukan agar bungaku dapat memberikan air lebih banyak. Nah, bila bungaku mekar, potonglah dengan didahului mantra:</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Nah, janji pacangbukak tiang danggul nyaine </span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Ane kaja, ane Kelod, Kangin, Kauh </span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Apang meresidayang maan pianak nyaine manyonyo </span></i><br /><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Ane madan mas Sundari Muncar2</span></i><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Apabila bungaku sudah mulai mengalirkan air, setiap kau hendak memanjat batangku sebutlah namaku dengan sebutan Sundari Bungkah. Sebab setelah bungaku dipotong, aku berganti nama menjadi Sundari Bungkah. Dan, apabila engkau sudah memanjat, jangan lupa untuk menyuntingkan lip (lidi ijuk) agar aku tidak terkejut. Nah, agar pemberitahuanku lengkap, apabila ada orang hendak merusak kelancaran jalan airku dengan ilmu hitam, pergunakanlah mantra ini untuk menolaknya:</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><i><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Segara penulak</span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Keneh anake ngusak yeh Mas Sundari Bungkah</span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Upet-upet</span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Segara kelod segara kangin</span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Palik pinulak Batara Wisnu3</span></i><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Air yang engkau tampung itu kegunaan utamanya adalah untuk dijadikan gula. Cara membuatnya, mula-mula masaklah seperti engkau memasak air. Setelah airku berbentuk seperti bubur, tuangkanlah pada tabung bambu atau tempurung kelapa. Bila telah kering ia akan menjadi gula yang dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan.</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Di samping untuk gula, airku dapat pula kau minum seketika karena rasanya manis. Dan, bila kau ingin membuat airku menjadi tuak, rendamlah akar kayu bajur di dalamnya. Tetapi, air itu tak lagi terasa manis, dan berubah warna menjadi kemerah-merahan. Dapat juga kau minum, tetapi hendaklah hati-hati jangan melampaui batas. Bila melewati batas dapat menyebabkan mabuk dan lupa kepada kebenaran.”</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Demikianlah, sejak saat itu Dedara Nunggal yang telah menjelma menjadi pohon, dapat dimanfaatkan oleh manusia menjadi gula ataupun tuak. Ia saat ini juga dikenal sebagai Sundari Bungkah atau yang lazim dikenal dengan nama pohon enau.</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"></span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"></span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><b><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Sumber:</span></b><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">http://uun-halimah.blogspot.com/search/label/cerita%20rakyat</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">1. Mantra ini dinyanyikan bila seorang penarep sedang memukul batang bunga enau. Penarep adalah orang yang pekerjaannya mengusahakan air nira (enau). Mantra ini terjemahan bebasnya:&nbsp;</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">O, ibu, O, ayah,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Anta Gini, Anta Gina,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Lilir Abika,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Berilah anakmu menyusu,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Yang bernama Mas Sundari Muncar.&nbsp;</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">2. Terjemahan bebasnya:&nbsp;</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Nah, sekarang batang bungamu akan kupotong,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Yang menghadap ke utara, selatan, timur maupun barat,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Agar anakmu yang bernama Mas Sundari Muncar,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Dapat mengisap air susu.&nbsp;</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">3. Terjemahan bebasnya:&nbsp;</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Lautan penolak, niat orang yang merusak airmu,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Tutuplah tutup,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Lautan selatan, maupun timur,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">Inilah penonok dari Batara Wisnu. </span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;">&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span><br /><span style="font-family: Verdana,sans-serif;"><br /></span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/7e2pnMewzm8" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/sundari-bungkah-asal-mula-pohon-enau.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-13773235664604469952013-03-17T10:49:00.003-07:002013-03-17T10:56:38.467-07:00Putri Kemang<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><span style="color: #660000; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat Suku Serawai (Bengkulu)</b></span><br /><div><span style="color: #660000;">Genre : Dongeng</span></div><div><br /></div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-yc1WfGDK3yM/UUYAyxM_qTI/AAAAAAAAqws/FGz-1mkVIFA/s1600/Putri+Kemang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-yc1WfGDK3yM/UUYAyxM_qTI/AAAAAAAAqws/FGz-1mkVIFA/s640/Putri+Kemang.jpg" width="560" /></a></div><br /></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;">P</span>utri Kemang adalah seorang perempuan, tetapi sifatnya seperti laki-laki. Kesukaannya pergi berburu, memancing ikan di sungai dan berjalan masuk hutan. Kampungnya terletak di pinggir hutan yang lebat. Bapaknya seorang raja. Oleh sebab itu Putrì Kemang seperti laki-laki dididik sebagai prajurit, belajar bermain pedang, memanah dan menombak.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari Putri Kemang pergi berburu rusa. Peralatannya sebilah pedang dan sebatang tombak. Anjing kesayangannya dibawanya pula. Berjalanlah ia, masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang, naik gunung turun gunung, batang air diseberangjnya. Kalau tidak pakai rakit, ia berenang. Setelah lama berjalan, bertemulah ia. dengan seekor rusa belang kakinya. Rusa dibidiknya dengan panah, tetapi tidak kena. Panas hatinya. Lalu dikejarnya rusa itu. Diikutinya terus ke mana perginya rusa itu. Sedikit pun tak lepas dari pandangannya. Setelah lama kejar mengejar itu, tiba-tiba rusa berhenti di bawah sebatang pohon kemang. Putri Kemang mendekat. Rusa menyingkir sedikit. Setelah Putri dekat dengan pohon kemang itu, lalu pokok kemang itu berkata kepada Putri,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hai putri, jangan kau kejar rusa itu. Rusa itu adalah seekor harimau."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putri Kemang terkejut mendengar kata pokok kemang itu. la berpikir, akan mengapa ia sekarang. Bagaimana caranya menyuruh harimau itu lari, atau dibunuh saja. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa harimau itu akan dibunuhnya, walaupun ada risikonya. Naiklah ia ke atas pokok kemang itu. Harimau dibidiknya dengan panah. Akan panah mengena badan harimau itu. Harimau mati seketika itu juga. Lalu ia turun ke bawah. Setelah sampai di bawah, harimau itu dikulitinya dan kulitnya diambil.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah harimau itu mati, suatu keheranan terjadi yaitu batang kemang itu bergerak, makin lama makin kelihatan ujudnya seperti seorang manusia. Berdirilah seorang pemuda gagah lagi tampan di hadapan Putri Kemang. Putri Kemang bertanya,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hai, siapa kamu ini sebenarnya? Mengapa engkau berubah dari sebatang kemang menjadi seorang manusia?"</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku ini seorang penunggu rimba di sini."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Maukah kamu ikut berburu dengan aku ?" tanya Putrì Kemang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku tidak bisa meninggalkan rimba ini. Memang tugasku menjaga rimba ini. Aku mau saja pergi dan menjadi manusia sebenarnya, tetapi isi rimba ini harus jadi manusia dahulu, dan rimba ini menjadi sebuah negeri."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Baiklah." kata Putrì Kemang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku berjanji, kalau hutan ini telah menjadi negeri dan engkau sudah menjadi manusia biasa, kau akan kujemput dan aku ingin berkawan dengan kamu."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah berkata itu, lalulah Putrì Kemang dari sisi batang kemang tadi. la melanjutkan perburuannya. Tinggallah batang kemang besar penjaga hutan itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah lama Putrì kemang berjalan, bertemulah ia dengan seekor kucing. Anjingnya menggonggong terus. Aneh sekali terjadi, kucing itu membesar badannya. Lalu dengan cepat sekali anjing Putrì Kemang diterkamnya, lalu mati dan langsung dimakannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putrì Kemang mengambil keputusan untuk pulang. Kembalilah ia seorang diri, karena anjingnya sudah mati. Pada saat akan menyeberang sebuah sungai, terlihatlah olehnya serombongan buaya. Rupanya buaya-buaya itu lapar sekali. Berkatalah seekor buaya yang paling besar,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hai manusia, sekarang sudah tiba ajalmu akan kami makan."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Lalu sang Putii menjawab, "Hai buaya, saya tahu kamu adalah binatang gagah dan kuat. Kamu adalah raja di air. Tetapi aku belum yakin kalau kamu dapat melawan saya seorang ini. Seribu ekor buaya baru bisa melawan aku."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Ah, hitung saja kami ini. Kalau kurang akan kupanggil kawan-kawanku."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Baiklah, sekarang berbarislah kamu supaya aku dengan mudah menghitung kamu."'</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mulailah buaya-buaya itu berbaris sampai ke seberang sungai. Putrì Kemang mulai meloncati badan-badan buaya itu. Sambii melompat ia menghitung. Satu, dua, tiga empat, lima, enam, tujuh dan seterusnya. Belum sampai seribu ekor dihitungnya, ia sudah sampai ke seberang. Melompatlah ia ke atas tebing, sambii berkata dengan lantangnya,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Terima kasih buaya-buaya yang tolol. Kamu terlalu serakah. Mana cukup dagingku yang sekecil ini untuk kamu semua. Cobalah kamu mencari makanan yang lain. Bukan hanya satu lubuk saja di dalam dunia ini."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Bukan mairi marahnya buaya-buaya itu. Mereka insaf akan kebodohannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah Putri Kemang sampai di rumahnya kembali, berceritalah atas segala kejadian yang dialaminya selama dalam perburuannya itu, kepada ayah dan ibunya. Juga pertemuan yang aneh dengan sebatang kemang yang menjelma menjadi seorang pemuda gagah lagi tampan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setahun kemudian, Putrì Kemang pergi berburu lagi. Berangkatlah Putrì Kemang seorang diri menuju hutan. Putrì Kemang berjalan menelusuri sungai yang panjang sekali. Setelah tiga hari berjalan ia bertemu dengan sebuah kerajaan yang ramai sekali. Putrì Kemang merasa heran, di dalam hutan yang lebat ini ada sebuah negeri. Ketika sampai di pinggir kerajaan itu, ia bertemu dengan seseorang, lalu bertanya,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Pak, apa nama negeri ini dan siapa rajanya?" Jawab orang tua itu,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Negeri ini bernama negeri Kemang dan rajanya bernama Putra Kemang. Asal kejadian negeri ini adalah dahulunya hutan rimba yang lebat. Hutan rimba ini disebut hutan siluman, karena hutan ini jadi-jadian adanya. Bahkan binatang-binatang di dalamnya juga adalah makhluk jadi-jadian yang disumpah para dewata. Putra Kemang juga dahulu seorang dewa yang disumpah jadi batang kemang besar terletak di tengah-tengah hutan ini. Sumpah dewata, apabila ada seorang manusia dapat berbicara dengannya, maka kemang itu akan menjadi manusia biasa, dan seluruh isi hutan ini akan beralih rupa menjadi sebuah negeri yang besar."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putri Kemang mengangguk-angguk penuh keheranan. la ingat peristiwa setahun yang lalu sewaktu ia masuk sebuah hutan dan bertemu dengan sebatang kemang yang dapat berbicara. Mungkin juga yang diceritakan oleh orang tua ini, adalah batang kemang dahulu, dan hutannya juga adalah hutan dahulu. Dan ia ingat pula dengan ucapannya tahun lalu, bahwa ia berjanji akan menjemput si Kemang, apabila Kemang telah menjadi manusia biasa. Berkatalah Putri Kemang,</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Pak, bawalah saya menghadap raja Putra Kemang!"</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka berangkatlah Putri Kemang menuju istana Putra Kemang. Setelah sampai di depan Putra Kemang, Putra Kemang berkata,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Kalau tidak salah kamu ini Putrì yang bertemu dengan aku setahun yang lalu di dalam hutan itu."</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Betul tuanku" jawab Putrì Kemang. "Aku akan menepati janjiku setahun yang lalu itu, bahwa kalau engkau itu adalah pemuda kemang yang sekarang telah menjadi manusia biasa."&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Benar, aku sekarang telah menjadi manusia biasa. Hutan itu telah menjadi negeri seperti apa yang kau lihat.".&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka keduanya berjanji akan bersahabat akrab. Sesuai pula ñama. keduanya seorang Putrì Kemang dan seorang lagi Putra Kemang. Diadakanlah pesta merayakan pertemuan kedua pemuda itu. Pada hari yang telah ditentukan Putrì Kemang akan mengajak putra Kemang pergi mengunjungi negeri ayahnya. Berangkatlah keduanya. Lima hari lima malam dalam perjalanan itu. Menjelang fajar pada hari kelima sampailah kedua pemuda itu di negeri ayah Putrì Kemang.-</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ayah Putrì Kemang menyambut kedua orang itu dengan gembira. Maka dijamulah Putra Kemang dengan penuh keakraban. Dicerìtakannyalah asal usul Putra Kemang. Raja tercengang mendengar cerità pemuda itu. Akhirnya Putri Kemang dijodohkan dengan Putra Kemang.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka ditetapkannyalah hari baik untuk mengadakan perkawinan keduanya. Setelah perkawinan selesai, raja memberi kebebasan ke mana mereka akan menetap, artinya dalam adat disebut semendo raja-raja*). Setelah ayah Putri Kemang lanjut usianya, kerajaannya diserahkan kepada Putrinya dan kerajaan itu bersatu dengan kerajaan Putra Kemang.</span><br /><br /><br /><br />*). Semendo raja-raja adalah suatu adat perkawinan di daerah Bengkulu, yang memberi<br />kebebasan kepada kedua pengantin dimana mereka akan tinggal setelah mereka<br />kawin. Di Bengkulu ada dua jenis perkawinan lagi yaitu:<br />1. Ambil anak,<br />2. Bleket (Rejang).<br /><br /><br /><b>Informan tahun 1980 :</b><br />Limar Sipin (35 th) ds. Padang Genting, pekerjaan: tani.<br />Pendidikan: SR. Bahasa: Serawai, Bengkulu dan Indonesia<br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"></div><br /><br /><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/dfZ6y5L_DOk" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/putri-kemang.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-53032806095238592912013-03-09T01:58:00.000-08:002013-03-09T01:58:16.317-08:00Asal Mula Huruf Jawa<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><b><span style="color: #7f6000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Jawa Tengah&nbsp;</span></b><br /><span style="background-color: white; color: #7f6000; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><b><i>Genre : Legenda</i></b></span><br /><span style="background-color: white; color: #7f6000; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><b><i><br /></i></b></span><span style="background-color: white; color: #7f6000; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><b><i><br /></i></b></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-ioiDbqBVirw/USwPSxzrlyI/AAAAAAAApvQ/vVZ76BTbn3c/s1600/huruf+jawa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="312" src="http://1.bp.blogspot.com/-ioiDbqBVirw/USwPSxzrlyI/AAAAAAAApvQ/vVZ76BTbn3c/s640/huruf+jawa.jpg" width="640" /></a></div><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><br /><span style="color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><span style="background-color: #fff2cc; font-size: x-large;">A</span><span style="background-color: white;">lkisah, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada.</span></span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Setelah itu, berangkatlah Sembada ke arah utara menuju Gunung Kendeng, sedangkan Aji Saka dan Dora berangkat mengembara menuju ke arah selatan. Mereka tidak membawa bekal pakaian kecuali yang melekat pada tubuh mereka. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka mendengar teriakan seorang laki-laki meminta tolong.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Tolong...!!! Tolong...!!! Tolong...!!!” demikian suara itu terdengar.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Mendengar teriakan itu, Aji Saka dan Dora segera menuju ke sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, mereka mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipukuli oleh dua orang perampok.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Hei, hentikan perbuatan kalian!” seru Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Kedua perampok itu tidak menghiraukan teriakan Aji Saka. Mereka tetap memukuli laki-laki itu. Melihat tindakan kedua perampok tersebut, Aji Saka pun naik pitam. Dengan secepat kilat, ia melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala kedua perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Setelah itu, ia dan abdinya segera menghampiri laki-laki itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Lelaki paruh baya itu pun bercerita bahwa dia seorang pengungsi dari Negeri Medang Kamukan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar suka memakan daging manusia. Setiap hari ia memakan daging seorang manusia yang dipersembahkan oleh Patihnya yang bernama Jugul Muda. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, sebagian rakyat mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Aji Saka dan abdinya tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan jari itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamukan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamukan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata:</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan serban yang dikenakannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Hanya itu permintaanmu, hai Anak Muda! Apakah kamu tidak ingin meminta yang lebih luas lagi?” sang Prabu menawarkan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Sudah cukup Gusti. Hamba hanya menginginkan seluas serban ini,” jawab Aji Saka dengan tegas.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Baiklah kalau begitu, Anak Muda! Sebelum memakanmu, akan kupenuhi permintaanmu terlebih dahulu,” kata sang Prabu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Aji Saka pun melepas serban yang melilit di kepalanya dan menyerahkannya kepada sang Prabu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Ampun, Gusti! Untuk menghindari kecurangan, alangkah baiknya jika Gusti sendiri yang mengukurnya,” ujar Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, ia melangkah mundur sambil mengulur serban itu. Anehnya, setiap diulur, serban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya,. Ketika ia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan serbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih. Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Daulat, Gusti!” jawab Dora seraya memohon diri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Sembada, sahabatku! Kini Tuan Aji Saka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Tidak, sabahatku! Tuan Aji berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Karena merasa mendapat tanggungjawab dari Aji Saka, Dora pun harus mengambil keris itu dari tangan Sembada untuk dibawa ke istana. Kedua dua orang abdi bersahabat tersebut tidak ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada menghianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Mereka sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng membawa kerisnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">“Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul abdinya itu ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi setianya telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka.&nbsp;</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah <i>dhentawyanjana</i>, yang mengisahkan pertarungan antara dua abdinya yang memiliki kesaktiaan yang sama dan tewas bersama. Huruf-huruf tersebut juga dikenal dengan istilah <i>carakan.</i></span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px;">sumber:&nbsp;</span><a href="http://www.kaskus.us/showpost.php?p=116110444&amp;postcount=1" style="background-color: white; border: 0px; color: #007ed8; font-family: Verdana; font-size: 12px; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: initial;">kaskus</a><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script></span><br /><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Tambahan :</b></span></div><div><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Ada referensi lainnya (namun saya lupa sumbernya) mengatakan bahwa Ajisaka dan kedua abdinya berasal dari India. Bertualang ke Pulau Jawa namun sebelum sampai di Jawa, sempat singgah di suatu pulau di laut Jawa dan minta kepada salah satu abdinya untuk menjaga keris saktinya di pulau itu.</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Mungkin legenda ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa huruf Jawa (juga, Bali dan beberapa huruf lainnya di Nusantara)adalah turunan dari huruf Brahmic dari India.</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Istilah Carakan berasal dari urutan abjad huruf jawa yang dimulai dari Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Lengkapnya adalah:</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 16.99652862548828px;"></span><br /><blockquote class="tr_bq"><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 16.99652862548828px;">Hanacaraka,<br />Dathasawala,<br />padhajayanya,<br />Magabatanga.</span></blockquote><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Yang merupakan huruf atau aksara Silabel (aksara sukukata) sebanyak 20 aksara. Sedangkan untuk huruf Bali hanya 18 aksara, dimana aksara dha = da dan tha = ta (Aksara Bali lumrah : Hanacaraka, Datasawala, Magabanga, Pajayanya).</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">Urutan aksara diatas yang berupa syair mempunyai arti yaitu:</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 16.99652862548828px;"></span><br /><blockquote class="tr_bq"><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 16.99652862548828px;">Hanacaraka = Ada Utusan, atau abdi;<br />Dathasawala = membawa khabar atau surat;<br />Padhajayanya = sama-sama sakti;<br />Magabatanga = semuanya menjadi mayat.</span></blockquote></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="background-color: white; color: #333333; line-height: 17px; margin: 0px; padding: 0px;" /></span><br /><div><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span></div><div><span style="background-color: white; line-height: 17px;"><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;">http://ceritaceritasejarah.blogspot.com/2010/01/aji-saka-asal-mula-huruf-jawa.html</span></span></div><div><span style="background-color: white; color: white; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;">http://sastraremaja11.blogspot.com/2012/03/kisah-aji-saka-dan-asal-mula-aksara.html</span><br /><span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 17px;"><br /></span></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/dxRmGYN6DgE" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/asal-mula-huruf-jawa.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-40188181139570566822013-03-05T22:32:00.000-08:002013-03-05T22:32:37.120-08:00Ular Dandaung<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Kalimantan Selatan</b></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif;">Genre : Dongeng</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #f4cccc; font-size: x-large;">D</span>i kisahkan pada dahulu kala ada sebuah kerajaan besar dan termasyhur di wilayah Kalimantan Selatan. Letak kerajaan tersebut diapit dua buah gunung dan dialiri sebuah sungai besar. Tanahnya sangat subur dan rakyatnya hidup makmur. Hasil kekayaan alamnya melimpah ruah. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raya yang adil dan bijaksana. Beliau mempunyai permaisuri dan tujuh putri yang cantik. Kekayaan alam yang dimiliki bukan untuk kepentingan keluarga Raja, melainkan untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat mengolah lahan pertanian sesuai dengan hak yang mereka miliki. Tidak pernah terjadi sengketa antar penduduk. Mereka hidup rukun dan damai.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-vEFix6FeCzE/UTF46CaoX8I/AAAAAAAAqhU/-epP3-tWTUo/s1600/ular+dandaung.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-vEFix6FeCzE/UTF46CaoX8I/AAAAAAAAqhU/-epP3-tWTUo/s320/ular+dandaung.gif" width="311" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Ada burung raksasa!", teriak penduduk negeri yang melihat burung raksasa itu. Mereka tidak tahu darimana asalnya burung raksasa yang tiba-tiba datang mengamuk itu. Burung raksasa itu sangat menakutkan, paruhnya besar dan tajam mengkilat. Sekali mematuk manusia langsung menemui ajal.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Cakarnya dapat langsung mencengkram puluhan orang dan dibuat tak berdaya. Kepak sayapnya membuat hampir seluruh wilayah negeri menjadi gelap gulita. Seluruh rakyat negeri itu menjadi panik dan kalang kabut.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Kita harus melawan burung raksasa itu?" kata Mahapatih kepada Sri Baginda Raja. Sri Baginda Raja segera mengirim ribuan prajurit pilihan untuk menghancurkan burung raksasa itu. Bermacam senjata diarahkan ke tubuh burung raksasa itu, namun sia-sia. Bahkan burung raksasa itu semakin membabi buta, mengamuk bagai banteng terluka. Tak seorang prajuritpun selamat, demikian penduduk negeri. Sawah dan ladang menjadi porak poranda. Keadaan negeri yang rukun dan damai itu, bagaikan kalah perang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Melihat kerajaan yang sudah hancur luluh lantak dan tak ada lagi rumah, sawah, maupun harta benda yang tersisa, semuanya itu membuat rakyat menjadi semakin tersiksa. Maka dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, prajurit dan rakyat yang sempat melarikan diri bahu membahu menyusun kekuatan dan mengumpulkan senjata apa saja untuk melawan burung raksasa yang jahat itu. Berkat kekompakan dan kerjasama antara prajurit dan rakyat yang mati-matian melawan burung raksasa, akhirnya burung raksasa kelelahan dan menghentikan serangannya. Rakyat bersyukur kepada Tuhan untuk sementara terhindar dari serangan burung raksasa.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-833KglrSe4k/UTF5MN51HlI/AAAAAAAAqhc/sPfWmk1yJzY/s1600/ular+dandaung.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-833KglrSe4k/UTF5MN51HlI/AAAAAAAAqhc/sPfWmk1yJzY/s320/ular+dandaung.gif" width="314" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Beberapa hari kemudian, mereka dikejutkan oleh kedatangan seekor ular raksasa. Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidah berbisa dihadapan keluarga Raja yang sangat ketakutan.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Jangan takut Baginda, hamba tidak akan membunuh Baginda dan keluarga, asalkan Baginda sudi mengabulkan permohonan hamba," kata ular itu sambil mendesis.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar ucapan ular raksasa yang memberi tanda tidak akan membahayakan keluarganya, Sri Baginda memberanikan diri berkata pada ular raksasa. "Siapakah engkau ? Dan apa keinginanmu ?," tanya Baginda Raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Nama hamba Ular Dandaung," jawab ular raksasa dengan penuh hormat.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Hamba ingin memperistri salah seorang putri Baginda," lanjutnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tentu saja keluarga Raja terperanjat. Bahkan putri sulung dan kelima adiknya menjerit ketakutan sambil merangkul ibundanya. Namun, Sri Baginda tenang dan berusaha menguasai keadaan agar jangan sampai suasana menjadi kacau. Sri Baginda berpikir sejenak sambil mengatur nafas. Beliau ingin mencari jalan keluar yang terbaik, sebab bila beliau salah langkah, pasti jiwa mereka terancam.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku tidak menolak, tetapi juga tidak menerima permintaanmu," kata Sri Baginda setengah kebingungan.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku harus bertanya kepada putri-putriku," tambahnya. Mendengar jawaban Sri Baginda itu, mata Ular Dandaung bersinar-sinar seperti mengharapkan kepastian dari salah seorang putri Raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun putri-putri Raja dari yang sulung sampai putri keenam tidak mau menerima pinangan Ular Dandaung.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku tidak mau kawin dengan ular yang menjijikkan !,". "Cih !. Lebih baik aku mati, daripada kawin dengannya", begitulah kata-kata yang keluar dari putri-putri Baginda Raja.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Akhirnya,"Aku bersedia menjadi istrinya," jawab Putri Bungsu sambil bersimpuh di depan ayahandanya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Akhirnya, Putri Bungsu dan Ular Dandaung diumumkan sebagai suami istri yang sah. Tentu saja banyak ejekan maupun cemooh dari keenam kakaknya, namun ia jawab dengan senyuman manis.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-IjydmuWfTEY/UTF6oQ-0DQI/AAAAAAAAqhk/Wv9cSJHi7OE/s1600/ular+dandaung.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-IjydmuWfTEY/UTF6oQ-0DQI/AAAAAAAAqhk/Wv9cSJHi7OE/s320/ular+dandaung.gif" width="317" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu malam, Putri Bungsu tiba-tiba terbangun dan terkejut melihat yang berada di sampingnya bukan Ular Dandaung, melainkan seorang pemuda tampan dan gagah perkasa berbusana Raja.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Jangan terkejut, aku suamimu. Kau telah menolongku bebas dari kutukan," kata Ular Dandaung meyakinkan. Setelah Putri Bungsu tenang, Ular Dandaung kemudian bercerita bahwa ia dikutuk karena kesalahannya. Ia akan terbebas dari kutukan apabila dapat memperistri seorang putri raja, dan ia berhasil.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div style="text-align: left;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-pdNuABZw0IU/UTF7GGO8GII/AAAAAAAAqhs/HBSSXloL4jw/s1600/ular+dandaung.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-pdNuABZw0IU/UTF7GGO8GII/AAAAAAAAqhs/HBSSXloL4jw/s320/ular+dandaung.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Melihat kejadian itu, keenam kakak Putri Bungsu menyesal. Namun nasi telah menjadi bubur.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ular Dandaung ternyata seorang yang sakti mandraguna. Melihat kerajaan mertuanya porak poranda ia langsung turun tangan. Ia segera mencari tempat Burung Raksasa. Terjadilah pertempuran hebat. Ular Dandaung mengerahkan segala kesaktiannya dan akhirnya berhasil membinasakan burung raksasa. Sejak saat itu, desa tersebut menjadi aman dan tenteram kembali.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b>Moral :</b> Setiap kejadian buruk yang menimpa pasti akan ada hikmahnya. Kerelaan dan keikhlasan serta tujuan mulia Putri Bungsu menerima Ular Dandaung menjadi suaminya menjadikan sesuatu menjadi baik kembali. Jadi, apa yang tampak buruk pada lahirnya belum tentu buruk pada isinya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber : Cerita Asli Indonesia Elexmedia</span></div></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/64oOVnKPOn0" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/ular-dandaung.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-50297784723899834562013-03-03T00:10:00.000-08:002013-03-03T00:10:31.948-08:00Naga Sabang dan Dua Raksasa Seulawah<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Aceh</b></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif;">Genre : Legenda terjadinya pulau We</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Diceritakan kembali oleh Wildan Seni</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-fOwo3r1HAA0/UTCM4z3EXHI/AAAAAAAAqfs/ZHblee5OlJI/s1600/Naga-Sabang-Dua-Raksasa-Seulawah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-fOwo3r1HAA0/UTCM4z3EXHI/AAAAAAAAqfs/ZHblee5OlJI/s640/Naga-Sabang-Dua-Raksasa-Seulawah.jpg" width="640" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;">P</span>ada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit, diselat itu tinggalah seekor naga bernama Sabang, pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru di pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu di halangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka pada suatu hari dipanggilah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati maka kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, ” Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Seulawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan &nbsp;berguncangan keras dan air laut akan surut, &nbsp;maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sultan Alam menitikan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.</span></div><div><br /></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka pada waktu yang sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikn pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kemudian raksasa seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga &nbsp;itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah &nbsp;tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, “Sabaaaaang!, sabaaaang!, sabaaang!” panggil Sultan Alam.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, Teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.</span></div><div><br /></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tak lama setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira di &nbsp;hantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadian mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-ucUJXvwv3-o/UTCOlx3r0GI/AAAAAAAAqf4/mu7a3CsWLDs/s1600/pulau+weh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" height="502" src="http://4.bp.blogspot.com/-ucUJXvwv3-o/UTCOlx3r0GI/AAAAAAAAqf4/mu7a3CsWLDs/s640/pulau+weh.jpg" width="640" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">Pulau Weh, terletak di paling ujung utara pulau Sumatra</span></td></tr></tbody></table></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang Adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangu sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.</span></div></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber:http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/naga-sabang-dan-dua-raksasa-seulawah.html</span></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/nQXJHrIuXMw" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/naga-sabang-dan-dua-raksasa-seulawah.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-36799576672058367682013-03-01T21:32:00.000-08:002013-03-01T21:32:19.813-08:00Banta Berensyah<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><br /><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Aceh</b></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div style="color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;">B</span><span style="background-color: white;">anta Berensyah adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin. Ia sangat rajin bekerja dan selalu bersabar dalam menghadapi berbagai hinaan dari pamannya yang bernama Jakub. Berkat kerja keras dan kesabarannya menerima hinaan tersebut, ia berhasil menikah dengan seorang putri raja yang cantik jelita dan dinobatkan menjadi raja. Bagaimana kisahnya? Ikuti cerita Banta Berensyah berikut ini.</span></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><br /></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-BWckVjjpZeU/UTGLvANrfVI/AAAAAAAAqiM/fQwoAdKJ4Co/s1600/Banta-Berensyah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="534" src="http://4.bp.blogspot.com/-BWckVjjpZeU/UTGLvANrfVI/AAAAAAAAqiM/fQwoAdKJ4Co/s640/Banta-Berensyah.jpg" width="640" /></a></div><div style="color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;"><br /></span></span></div><div style="color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;">A</span><span style="background-color: white;">lkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh. Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.</span><span id="more-525" style="background-color: white; margin: auto; padding: 0px;"></span></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranyasambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan mempesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px; text-align: center;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">* * *</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Demikian cerita dongeng Banta Berensyah dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sedikitnya ada dua pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah di atas. Pertama, orang yang senantiasa berusaha dan bekerja keras, pada akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Sebagaimana ditunjukkan oleh perilaku Banta Berensyah, berkat kerja keras dan kesabarannya, ia berhasil mempersunting putri raja dan menjadi seorang raja. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</span></div><blockquote style="background-color: white; color: #444444; margin: 5px 0px; padding: 0px 40px; position: relative;"><div style="line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">wahai ananda cahaya mata,</span></em><br style="margin: auto; padding: 0px;" /><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">rajin dan tekun dalam bekerja</span></em><br style="margin: auto; padding: 0px;" /><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">penat dan letih usah dikira</span></em><br style="margin: auto; padding: 0px;" /><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">supaya kelak hidupmu sejahtera</span></em></span></div></blockquote><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; padding: 5px 0px; text-align: justify;"><span style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang kaya yang kikir dan serakah seperti Jakub, pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal. Ia tewas akibat keserakahannya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</span></span></div><blockquote style="background-color: white; color: #444444; margin: 5px 0px; padding: 0px 40px; position: relative;"><div style="line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">apa tanda orang tamak,</span></em><br style="margin: auto; padding: 0px;" /><em style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">karena harta marwah tercampak</span></em></span></div></blockquote><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: 6pt 0cm 0.0001pt -9pt; padding: 5px 0px; text-align: justify; text-indent: 9pt;"><span style="color: black; margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br style="margin: auto; padding: 0px;" /></span></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; line-height: 18px; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; padding: 5px 0px; text-align: justify;"><strong style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber:</span></span></strong></div><ul style="background-color: white; color: #444444; margin: auto; padding: 0px;"><li style="margin: auto auto auto 20px; padding: 5px 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Isi cerita diadaptasi dari L. K. Ara. 1999. “Banta Berensyah,” dalam&nbsp;<em style="margin: auto; padding: 0px;">Cerita Rakyat dari Aceh</em>. Jakarta: Grasindo.</span></span></li><li style="margin: auto auto auto 20px; padding: 5px 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">-Anonim. “Nanggroe Aceh Darussalam, http://id.wikipedia.org/wiki/Nanggroe_Aceh_Darussalam, diaskes pada tanggal 23 Juni 2000.</span></span></li><li style="margin: auto auto auto 20px; padding: 5px 0px;"><span style="margin: auto; padding: 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Effendy, Tenas. 2006.&nbsp;<em style="margin: auto; padding: 0px;">Tunjuk Ajar Melayu</em>. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.</span></span></li><li style="margin: auto auto auto 20px; padding: 5px 0px;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="margin: auto; padding: 0px;">E</span><span style="margin: auto; padding: 0px;">ffendy,&nbsp;</span><span style="margin: auto; padding: 0px;">Tenas.</span><span style="margin: auto; padding: 0px;">&nbsp;1994/1995.&nbsp;<em style="margin: auto; padding: 0px;">“Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau</em>. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.</span></span></li></ul><div><span style="color: #444444; font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div></div><div><span style="color: #444444; font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/84JPWtMVMuc" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/banta-berensyah.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-44436430109048842312013-03-01T20:26:00.000-08:002013-03-01T20:26:59.643-08:00Beungong Meulu dan Beungong Peukeun<span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b><br /></b></span><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Aceh</b></span><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><br /><div><span style="background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 17.99715805053711px;"><span style="color: #660000;">Genre : Dongeng</span></span><br /><span style="background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 17.99715805053711px;"><span style="color: #660000;">Penulis: Yulia S. Setiawati</span></span></div><div><br /></div><div><br /></div><div><br /></div><div><div style="color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><span style="background-color: #d9ead3; font-size: x-large;">P</span><span style="background-color: white;">ada zaman dahulu kala, di s­e­buah negeri di Aceh, hidup dua orang kakak-beradik yang ber­nama Beungong Meulu dan Beungong Peukeun. Kedua orangtua mereka telah meninggal dunia. Tiap hari Beungong Peu­­keun mencari udang di danau. Suatu hari Beungong Peukun tidak mendapat se­ekor udang pun. Saat hendak pulang, dia melihat sebuah benda yang menarik hatinya. Ternyata benda itu sebutir telur.</span></div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Sesampainya di rumah, direbusnya telur tadi dan dimakannya. Sungguh aneh, keesokan harinya Beungong Peukeun me­rasa sangat haus. Bukan hanya itu, tubuh­nya pun semakin panjang dan bersisik. Akhirnya, suatu pagi saat bangun dari ti­dur­nya Beungong Peukun telah berubah menjadi seekor naga.<span id="more-517" style="margin: auto; padding: 0px;"></span></div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-0xT-Fr0q8G4/UTF-PzhVDCI/AAAAAAAAqh8/5U-kGtjmleQ/s1600/Beungong+Meulu+dan+Beungong+Peukeun.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="486" src="http://2.bp.blogspot.com/-0xT-Fr0q8G4/UTF-PzhVDCI/AAAAAAAAqh8/5U-kGtjmleQ/s640/Beungong+Meulu+dan+Beungong+Peukeun.jpg" width="640" /></a></div><br />“Mengapa Kakak memakan telur itu? Kini kau menjadi seekor naga,” kata Beu­ngong Meulu dengan terisak menyesali per­­­­­­buat­­­­­­an kakaknya. Keesokan harinya Beu­ngong Peukeun mengajak adiknya me­­­­­ninggal­­­­­­­­­kan gubuk mereka. Sebelum be­r­­­­ang­­­­­­­­kat, Beungong Peukeun menyuruh adik­nya me­­­me­­­tik tiga kuntum bunga di be­­­­­­­­­la­­­­­­kang gubuk mereka. “Ayo, naiklah ke pung­­­­­gung­­­­­­­­ku dan peganglah bunga itu erat-erat, jangan sampai jatuh,” perintah Beu­ngong Peukeun.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Saat melewati su­ngai besar, Beungong Peukeun meminum air­nya hingga habis. Tiba-tiba muncul seekor na­ga yang marah ka­­re­­na perbuatan Beu­­ngong Peukeun ter­­­sebut. Keduanya ber­tarung se­ngit. Saat Beu­­ngong Peu­kuen me­menangkan per­ta­­rung­­an tersebut se­kuntum bunga di ta­ngan Beungong Meulu menjadi layu.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka kembali di­ha­­dang seekor naga yang besar. Kembali ter­­­­jadi pertarungan. Tiba-tiba sekuntum bu­­­nga di ta­­ngan Beungong Meulu menjadi layu. Tahu­­­lah dia bahwa sebentar lagi per­tarung­­­­an akan dimenangkan Beungong Peukeun.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Setelah menang bertarung, kakak-beradik itu kembali melanjutkan perjalanan me­nyeberangi lautan. Rupanya di tengah per­jalanan menyeberangi lautan tersebut, Beungong Peukeun kembali diserang se­­ekor naga. Kali ini naga yang sangat besar. Saat bunga di tangan Beungong Meulu tak kunjung layu, dia mulai khawatir.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Beungong Meulu semakin khawatir ketika Beungong Peukeun tampak mulai kewalahan menghadapi serangan sang Naga. Saat mengetahui dirinya akan kalah, Beungong Peukeun melemparkan adiknya dari punggungnya. Akhirnya Beungong Peu­­keun terbunuh oleh serangan naga yang sangat besar itu. Sementara itu, Beu­ngong Meulu terlempar dan tersangkut di se­­buah pohon milik seorang saudagar kaya yang kemudian menikahinya.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Namun sayang, selama menjadi istri saudagar kaya tersebut, Beungong Meulu tak pernah bicara ataupun tersenyum. Dia selalu diam dan tampak sedih. Bahkan sam­pai mereka mempunyai seorang anak. Suami­­­­nya mencari akal untuk mengetahui penye­­bab kesedihan istrinya itu. Maka su­atu hari suaminya berpura-pura mati se­­­­hing­­­­ga anaknya menangis tersedu-sedu.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">“O Anakku, ibu tahu bagaimana se­­­dih­­nya hati bila ditinggal orang yang kita cin­­­tai. Ibu dulu kehilangan kakak ibu yang terbunuh oleh seekor naga di laut­­­­­an. Bah­kan hingga kini ibu tidak dapat meng­­­hi­lang­kan rasa sedih itu.”<br /><br />Mendengar pe­ng­­­akuan Beungong Meulu tersebut su­a­­mi­­nya kemudian bangun. Akhirnya, dia me­­­­ngetahui penyebab kesedihan Beu­ngong Meulu. Keesokan harinya dia meng­­ajak Beungong Meulu pergi ke laut­an, di mana dulu Beungong Peukeun ber­tarung melawan naga raksasa.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Saat sampai di pantai, Beungong Me­ulu dan suaminya melihat tulang-tulang ber­­s­erakan. Beungong Meulu yakin bahwa itu tulang-tulang kakaknya. Maka, di­kumpul­kan­nya tulang-tulang tersebut kemu­­dian sua­minya membaca doa sambil memercik­kan air bunga pada tulang-tulang tersebut. Atas perkenan Tuhan, tiba-tiba terjadi keajaiban. Beungong Peukeun menjelma dan berdiri di hadapan mereka. Sejak saat itu Beungong Peuken tinggal bersama adik­nya dan Beu­ngong Meulu tidak lagi membisu.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Suatu hari, Beungong Peukun ber­jalan-jalan di tepi pantai. Saat itu dia meli­hat seekor ikan raksasa berwarna kemerahan. Dihujamkannya sebilah pedang ke tubuh ikan tersebut kemudian dicongkelnya mata ikan tersebut. Karena terlalu keras, mata ikan tersebut terpelanting jauh hingga jatuh di halaman seorang penguasa di sebuah negeri. Mata ikan tersebut kemudian ber­ubah menjadi gunung. Sang penguasa merasa gelisah dengan adanya gunung di halamannya. Ia kemudian mengadakan se­buah sayembara. Barang siapa dapat me­min­dah­­kan gunung tersebut dari halaman ru­­mah­nya, dia akan dijadikan penguasa di negeri itu dan dinikahkan dengan anaknya.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;">Beungong Peukeun yang mendengar sayembara tersebut segera berangkat ke sana. Begitu tiba di tempat yang di­maksud, dia segera mencongkel gunung tersebut dengan pedang saktinya. Da­lam se­­kejap, gunung tersebut dapat dilempar­kannya jauh-jauh. Sang penguasa mene­pati janjinya. Beungong Peukeun diberi kekuasaan memerintah negeri tersebut dan dinikahkan dengan putri penguasa. Demikianlah kisah tentang dua saudara ini. Akhirnya, mereka berdua hidup bahagia.</div><div style="background-color: white; color: #444444; font-family: Verdana; line-height: 18px; margin: auto; padding: 5px 0px;"><br /></div></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/e9wPYyDtnQ0" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/03/beungong-meulu-dan-beungong-peukeun.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-12727044127222653482013-03-01T19:52:00.000-08:002013-03-01T19:55:11.260-08:00Asal Mula Bukit Catu<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Bali</b></span><br /><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif;">Genre : Legenda</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ead1dc; font-size: x-large;">A</span>lkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa tersebut tinggal seorang petani bernama Pak Jurna dan istrinya. Mereka menginginkan hasil panen padinya lebih banyak dari pada hasil panen sebelumnya. "Hem, sebaiknya pada musim tanam padi sekarang ini kita berkaul," usul Pak Jurna pada istrinya. "Berkaul apa, pak?" sahut Bu Jurna. "Begini, jika hasil panen padi nanti meningkat kita buat sebuah tumpeng nasi besar, ujar Pak Jurna penuh harap. Ibu Jurna setuju.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span> <span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ternyata hasil panen padi Pak Jurna meningkat. Sesuai dengan kaul yang telah diucapkan, lantas Pak Jurna dan istrinya membuat sebuah tumpeng nasi besar. Selain itu diadakan pesta makan dan minum. Namun Pak Jurna dan istrinya belum puas dengan hasil panen yang mereka peroleh. Mereka ingin berkaul lagi dimusim padi berikutnya. "Sekarang kita berkaul lagi. Jika hasil panen padi nanti lebih meningkat, kita akan membuat tiga tumpeng nasi besar-besar," ujar Pak Jurna yang didukung istrinya. Mereka pun ingin mengadakan pesta yang lebih meriah daripada pesta sebelumnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-AFEyVNUcleA/UTF1v3JzN7I/AAAAAAAAqg0/vf3g_SU1s-Y/s1600/bukitcatu1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-AFEyVNUcleA/UTF1v3JzN7I/AAAAAAAAqg0/vf3g_SU1s-Y/s320/bukitcatu1.gif" width="316" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ternyata benar-benar terjadi. Hasil panen padi lebih meningkat lagi. Pak Jurna dan istrinya segera melaksanakan kaulnya. Sebagian sisa panen dibelikan hewan ternak oleh Pak Jurna. Tapi mereka masih belum puas. Pak Jurna dan istrinya berkaul lagi akan membuat lima tumpeng besar jika hasil panen dan ternaknya menjadi lebih banyak. Panen berikutnya melimpah ruah dan ternaknya semakin banyak. "Suatu anugerah dari Sang Dewata, apa yang kita mohon berhasil," ucap Pak Jurna datar.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-LufyBCBVM5c/UTF2wmE-UpI/AAAAAAAAqg8/ehEv2-14zWU/s1600/bukitcatu1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-LufyBCBVM5c/UTF2wmE-UpI/AAAAAAAAqg8/ehEv2-14zWU/s320/bukitcatu1.gif" width="313" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Di suatu pagi yang cerah, Pak Juran pergi ke sawah. Sewaktu tiba di pinggir lahan persawahan, ia melihat sesuatu yang aneh. "Onggokan tanah sebesar catu?" tanyanya dalam hati. "Perasaanku onggokan tanah ini kemarin belum ada," gumam pak Juran sambil mengingat-ingat. Catu adalah alat penakar beras dari tempurung kelapa. Setelah mengamati onggokan tanah itu, pak Jurna segera melanjutkan perjalanan mengelilingi sawahnya. Setelah itu, ia pulang ke rumah. Setibanya di rumah, pak Jurna bercerita pada istrinya tentang apa yang dilihatnya tadi. Ia segera mengusulkan agar membuat catu nasi seperti yang dilihat di sawah. Ibu Jurna mendukung rencana suaminya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Begini, pak. Kita buat beberapa catu nasi. Dengan begitu, panenan kita akan berlimpah ruah, sehingga dapat melebihi panenan orang lain," usul Bu Jurna.</span><br /><br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-nm3K38BLMas/UTF2_pH_VoI/AAAAAAAAqhE/ghMU7-GCHgM/s1600/bukitcatu1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-nm3K38BLMas/UTF2_pH_VoI/AAAAAAAAqhE/ghMU7-GCHgM/s320/bukitcatu1.gif" width="313" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Hasil panen berlimpah ruah. Lumbung padi penuh. Para tetangga Pak Jurna takjub melihat hasil panen yang tiada bandingnya itu. "Pak Jurna itu petani ulung," kata seorang lelaki setengah baya kepada teman-temannya. "Bukan petani ulung tetapi petani beruntung," timpal salah satu temannya sambil tersenyum. Pak Jurna dan istrinya membuat beberapa catu nasi. Pesta pora segera dilaksanakan sangat meriah. Beberapa catu nasi segera dibawa ke tempat sebuah catu yang berupa onggokan tanah berada. Namun, Pak Jurna sangat terkejut melihat catu tersebut bertambah besar.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Baik, aku akan membuat catu nasi seperti catu tanah yang semakin besar ini," tekad Pak Jurna bernada sombong. Pak Jurna segera pulang ke rumah dan memerintahkan istrinya agar membuat sebuah catu nasi yang lebih besar.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-8Vuz7rCMIdw/UTF3UDgs27I/AAAAAAAAqhM/47jY6KXGteM/s1600/bukitcatu1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="315" src="http://3.bp.blogspot.com/-8Vuz7rCMIdw/UTF3UDgs27I/AAAAAAAAqhM/47jY6KXGteM/s320/bukitcatu1.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sebuah catu nasi yang dimaksud telah siap dibawa ke sawah. Sambil bersenandung dan diiringi gemerciknya air sawah, Pak Jurna membawa catu nasi besar. Namun setelah tiba ditempat, Pak Jurna terperanjat.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Astaga! Catu semakin besar dan tinggi!" pekiknya. "Tak apalah. Aku masih mempunyai simpanan beras yang dapat dibuat sebesar catu ini," ujar Pak Jurna tinggi hati. Begitulah yang terjadi. Setiap Pak Jurna membuat catu nasi lebih besar, onggokan tanah yang berupa catu bertambah besar dan semakin tinggi. Lama kelamaan catu tanah tersebut menjadi sebuah bukit.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pak Jurna dan istrinya pasrah. Mereka sudah tidak sanggup lagi membuat catu nasi. Lantas apa yang terjadi? Pak Jurna jatuh miskin karena ulah dan kesombongannya sendiri. Akhirnya, onggokan tanah yang telah berubah menjadi bukit itu dinamai Bukit Catu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Moral : Bersyukurlah atas segala sesuatu yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Jangan terlalu rakus dan sombong.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber : Elexmedia</span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/7cOwOQ8T35Q" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comBali, Indonesia-8.4095178 115.18891600000006-9.4146548 113.89802250000007 -7.4043808 116.47980950000006http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-mula-bukit-catu.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3595441447386691182013-02-26T17:51:00.000-08:002013-02-26T17:51:06.974-08:00Pengorbanan Putri Kemarau<br /><span style="color: #4c1130; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Sumatra Selatan</b></span><br /><br /><br /><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script>Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini <br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-WlGMYhNOK64/US1mTtTRRpI/AAAAAAAAqU4/6jbAo1i450A/s1600/putri-kemarau-palembang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="425" src="http://1.bp.blogspot.com/-WlGMYhNOK64/US1mTtTRRpI/AAAAAAAAqU4/6jbAo1i450A/s640/putri-kemarau-palembang.jpg" width="640" /></a></div><br /><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #fce5cd; font-size: x-large;">D</span>ahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja. Ibunda sang Putri baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya. Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang rumput sudah hangus terbakar terik matahari. Ternak-ternak warga banyak yang mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal. Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan. Melihat keadaan tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya jalan keluar.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi peramal itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan. Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">&nbsp;“Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk termenung seorang diri di taman.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,” kata sang Raja kepada putrinya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah ayahandanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” lanjut sang Putri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh ibundanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” ujar ibu Putri Kemarau.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda. Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu, Putriku!” cegah sang Raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir Ananda.”</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka, pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda dan rakyatnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan Ananda,” pinta sang Putri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup menahan keinginan putrinya. Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya. Dalam waktu singkat, seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah putrimu di sana!” demikian pesan suara itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas kembali ke tebing itu. Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan harapan baru. Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula tidak ada batu karang di tengah laut itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,” ucap sang Raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana. Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri tersebut. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera</span>.<br /><br /><div style="text-align: center;">* * *</div><br /><br />Demikian cerita Pengorbanan Putri Kemarau dari daerah Sumatra Selatan. Pelajaran yang diambil dari cerita di atas adalah bahwa orang yang ikhlas berkorban demi kepentingan orang banyak akan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa.<br /><br /><br /><br /><span style="font-size: xx-small;">Sumber:http://rochell-techno.blogspot.com/2012/12/pengorbanan-putri-kemarau.html</span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/HaGZnZiZ8lI" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/pengorbanan-putri-kemarau.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-35979587688137537642013-02-26T17:28:00.000-08:002013-02-26T17:28:05.787-08:00Raja Empedu<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <div style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;"><br /></span><span style="color: #4c1130; font-family: inherit; font-size: large; line-height: 150%;"><b>Cerita Rakyat dari Musi Rawas</b></span><br /><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;"><br /></span><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;"><br /></span><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">Raja Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu berikut.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><div style="text-align: center;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">* * *</span></div><br /></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-6r2C3IHSZaQ/US1gNRsjgHI/AAAAAAAAqUc/XF8gbgLnjs8/s1600/raja+empedu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-6r2C3IHSZaQ/US1gNRsjgHI/AAAAAAAAqUc/XF8gbgLnjs8/s640/raja+empedu.jpg" width="500" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;"><span style="font-size: x-large;"><i style="background-color: #ead1dc;">P</i></span>ada zaman dahulu kala, Kecamatan Rawas Ulu yang merupakan wilayah Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, terbagi ke dalam tiga wilayah pemerintahan yaitu Hulu Sungai Nusa, Lesung Batu, dan Kampung Suku Kubu. Ketiga wilayah tersebut masing-masing diperintah oleh seorang raja. Negeri Hulu Sungai diperintah oleh Raja Empedu yang masih muda dan terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Rakyatnya hidup aman dan makmur karena pertanian di daerah itu maju dengan pesat. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Sementara itu, Negeri Lesung Batu diperintah oleh Pangeran Mas yang terkenal kaya raya dan mempunyai banyak ternak kerbau. Adapun Negeri Kampung Suku Kubu diperintah oleh Raja Kubu yang memiliki kesaktian yang tinggi. Negeri Kampung Kubu dikenal paling tertinggal dibanding dua negeri yang lain meskipun wilayahnya cukup subur. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Suatu ketika, Pangeran Mas mengalami kesulitan memelihara ternaknya yang semakin hari semakin berkembangbiak. Oleh karenanya, ia berniat untuk menyerahkan sebagian ternaknya kepada siapa pun yang berminat memeliharanya dengan syarat kerbau-kerbau yang diserahkan tetap menjadi miliknya, hasil dari pengembangbiakan itulah nantinya akan dibagi bersama secara adil. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Raja Kubu yang mendengar kabar tersebut sangat berminat untuk menerima tawaran Pangeran Mas. Ia segera mengirim utusannya ke Negeri Lesung Batu untuk menghadap Pangeran Mas. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Ampun, Tuan! Hamba adalah utusan Raja Kubu dari Negeri Kampung Suku Kubu. Kedatangan hamba kemari untuk menyampaikan keinginan Raja hamba yang berminat menerima tawaran Tuan dan bersedia menaati persyaratannya,” lapor utusan Raja Kubu.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Baiklah, kalau begitu! Pulanglah dan sampaikan kepada Raja-mu bahwa aku menyetujui keinginannya. Besok aku akan mengirimkannya puluhan ekor kerbau. Sampaikan juga kepada Raja-mu bahwa jika kerbau-kerbau tersebut telah berkembangbiak, aku akan datang untuk mengambil pembagian hasilnya,” jelas Pangeran Mas.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Baik, Tuan! Pesan Tuan akan hamba sampaikan kepada Raja hamba,” kata utusan itu seraya mohon diri. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Keesokan harinya, Pangeran Mas mengirim berpuluh-puluh ekor kerbau jantan dan betina kepada Raja Kubu. Raja Kubu pun menerimanya dengan senang hati. Ia memelihara dan merawat kerbau-kerbau tersebut dengan baik. Kerbau-kerbau tersebut ia gembalakan dan membiarkannya berkubang di sawah-sawah yang terhampar luas di daerahnya. Kerbau peliharaannya pun berkembangbiak dengan cepat dan hampir seluruh daerahnya telah menjadi kubangan kerbau. Sejak itu, negeri tersebut kemudian dikenal dengan nama Negeri Kubang dan Raja Kubu dipanggil Raja Kubang. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Beberapa tahun kemudian, Pangeran Mas merasa bahwa tibalah saatnya untuk mengambil pembagian atas ternaknya yang dipelihara oleh Raja Kubang. Maka dikirimlah utusannya untuk menghadap Raja Kubang. Setibanya di sana, Raja Kubang mengikari janjinya dan menolak untuk berbagi hasil dengan Pangeran Mas. Bahkan, ia menganggap bahwa semua kerbau yang dipeliharanya adalah miliknya.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Hai, utusan! Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Raja Kubang. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Ampun, Tuan! Hamba diutus Raja Pangeran Mas kemari untuk menagih pembagian hasil dari ternak kerbau yang Tuan pelihara,” jawab utusan Raja Pangeran Mas.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Apa katamu, pembagian hasil? Tidak, semua kerbau tersebut sudah menjadi milikku karena akulah yang merawat dan mengembangbiakkannya,” kata Raja Kubang.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Tapi, Tuan! Bukankah hal itu sesuai dengan perjanjian yang telah Tuan sepakati bersama Raja Pangeran Mas?” ujar utusan itu.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Cuihhh… persetan dengan perjanjian itu! Perjanjian itu hanya berlaku pada waktu itu, tapi sekarang tidak lagi,” Raja Kubang menyangkal.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Beberapa kali utusan Raja Pangeran Mas berusaha membujuk dan memberinya pengertian, namun Raja Kubang tetap mengingkari janjinya. Lama kelamaan Raja Kubang merasa muak dengan bujukan-bujukan itu. Ia pun memerintahkan pengawalnya agar mengusir utusan itu. Akhirnya, utusan Raja Pangeran Mas pulang dengan tangan hampa. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Mendengar laporan dari utusannya, Raja Pangeran Mas sangat marah atas sikap dan tindakan Raja Kubang. Penguasa Negeri Lesung Batu itu berniat untuk menyerang Raja Kubang, namun apa daya Raja Kubang terkenal sakti dan mempunyai banyak pengawal yang tangguh. Akhirnya, ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada Raja Empedu. Berangkatlah ia bersama beberapa pengawalnya ke Negeri Hulu Sungai Nusa. Setibanya di sana, kedatangan mereka disambut baik oleh Raja Empedu. Raja Pangeran Mas kemudian mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa berpikir panjang, Raja Empedu pun menyatakan kesediaannya untuk membantu Pangeran Mas.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Baiklah, Pangeran Mas! Aku akan membantu mengembalikan kerbau-kerbaumu. Raja Kubang yang suka ingkar janji itu harus diberi pelajaran,” ujar Raja Empedu.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Tapi, bagaimana caranya Raja Empedu? Bukankah Raja Kubang itu sangat sakti?” tanya Pangeran Mas bingung. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">“Tenang Pangeran Mas! Kita perlu strategi untuk bisa mengalahkannya,” ujar Raja Empedu.</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Akhirnya, Raja Empedu bekerjasama dengan Pangeran Mas membangun strategi. Pertama-tama mereka membagi dua pasukan mereka. Pasukan pertama bertugas membuat hiruk pikuk seluruh rakyat Raja Kubang dengan mengadakan pertunjukan seni dan tari pedang di Negeri Kubang. Pasukan kedua bertugas untuk mengepung dan membakar seluruh pemukiman penduduk Negeri Kubang. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah pasukan pertama ke Negeri Kubang untuk mengadakan pertunjukan. Mereka masuk wilayah negeri itu sambil membawakan lagu-lagu merdu dan tari-tarian pedang. Penduduk Negeri Kubang pun berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukkan itu, tidak terkecuali Raja Kubang dan para pengawalnya. Pada saat itulah, pasukan kedua yang dipimpin oleh Raja Empedu dan Pangeran Mas segera memanfaatkan kesempatan untuk mengepung dan membakar seluruh permukiman warga. Para penduduk pun berlarian untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Raja Kubang baru menyadari bahwa mereka telah dikepung oleh pasukan dari dua kerajaan. Ia pun tak berdaya untuk melakukan perlawanan karena jumlah pasukan Raja Empedu dan Pangeran Mas jauh lebih banyak daripada pasukannya. Akhirnya, Raja Kubang menyerah dan mengembalikan seluruh kerbau yang ada di negerinya kepada Pangeran Mas. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Pangeran Mas dan Raja Empedu beserta seluruh pasukannya menggiring kerbau-kerbau tersebut menuju Negeri Lesung Batu. Betapa senangnya hati Pangeran Mas karena ternak kerbaunya dapat direbut kembali dari tangan Raja Kubang atas bantuan Raja Empedu. Sebagai ucapan terima kasih dan balas jasa, Pangeran Mas menyerahkan putri semata wayangnya yang bernama Putri Darah Putih kepada Raja Empedu untuk dijadikan permaisuri. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif; line-height: 150%;">Setelah menikah, Raja Empedu mengajak Putri Darah Putih tinggal di Negeri Hulu Sungai Nusa. Sejak itulah, Raja Pangeran Mas merasa kesepian dan selalu merindukan putrinya. Untuk melepas keriduannya, ia sering pergi ke Tebing Ajam, yaitu suatu tempat yang tinggi untuk meninjau dari kejauhan Negeri Hulu Sungai, tempat tinggal putrinya dan Raja Empedu. Hingga kini, tebing itu terkenal dengan nama Tebing Peninjauan. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;"><br /></span><br /><div style="text-align: center;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">* * * </span></div></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;"><br /></span><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">Demikian cerita <i>Raja Empedu </i>dari daerah Sumatera Selatan. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat suka menolong dan akibat buruk sifat suka ingkar janji. <i>Pertama</i>, sifat suka menolong ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Empedu yang telah membantu Raja Pangeran Mas menumpas ketamakan Raja Kubang. Berkat sifatnya yang suka menolong itu, Raja Empedu dinikahkan dengan Putri Darah Putih yang cantik jelita. </span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">Kedua, akibat buruk dari sifat suka ingkar janji. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Kubang yang mengingkari perjanjiannya dengan Raja Pangeran Mas karena keserakahannya terhadap harta. Akibatnya, seluruh permukimannya binasa dibakar oleh Pasukan Raja Pangeran Mas dan Raja Empedu.&nbsp;</span></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><br /></div><div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"><b><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">Sumber :</span></b><br /><span style="font-family: Verdana; line-height: 150%;">ht*p://www.ceritarakyat.pustaka78.com</span></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/9a2LyBGnFgw" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comMusi Rawas, Indonesia-2.8625305 102.98961499999996-3.4773335000000003 102.19928349999996 -2.2477275 103.77994649999995http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/11/raja-empedu.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-36990479005889678882013-02-21T00:22:00.000-08:002013-02-21T00:22:28.908-08:00Bukit Fafinesu<br /><b><span style="font-size: large;">Cerita Rakyat dari Pulau Timor</span></b><br /><b><span style="font-size: large;"><br /></span></b><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-UxsKsAWGP6s/UQv-fzfRI2I/AAAAAAAAnJA/3uxtebIsfVA/s1600/Bukit+Fafinesu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-UxsKsAWGP6s/UQv-fzfRI2I/AAAAAAAAnJA/3uxtebIsfVA/s640/Bukit+Fafinesu.jpg" width="491" /></a></div><br />Di sebelah utara Kota<b> Famenanu</b>, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah bukit bernama <b>Fafinesu</b> yang berarti <b>Bukit Babi Gemuk</b>. Ada suatu kisah menarik yang melatarbelakangi penamaan bukit itu. Kisahnya adalah sebagai berikut.<br /><br />Pada zaman dahulu kala di pedalaman Pulau Timor ada tiga orang adik-beradik bernama <b>Saku, Abatan,</b> dan <b>Seko</b>. Mereka hidup dan tinggal bersama dengan kerabat ibunya, sebab ayah dan ibu mereka telah tiada. Ayah ketiga orang ini meninggal dunia karena terjatuh ke jurang ketika sedang berburu babi hutan. Tujuh bulan kemudian Sang Ibu juga meninggal dunia karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan Si Bungsu, Seko. Hal ini diperparah lagi ketika nenek yang mengasuh mereka juga ikut meninggal dunia karena dimakan usia ketka Si Bungsu baru berumur dua tahun.<br /><br />Waktu pun berlalu. Walau hidup serba kekurangan, mereka senantasa rukun dan bahagia. Abatan tumbuh menjadi seorang remaja yang rajin dan cerdas. Ia sering menanam jagung dan ketela di ladang, mencari kayu bakar di hutan, dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si Bungsu pun yang telah berumur lima tahun dan menjadi seorang anak yang penurut. Ia sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk sehingga kakak-kakaknya semakin bahagia.<br /><br />Namun di tengah suasana yang rukun dan damai tersebut, suatu malam Si Bungsu tidak dapat memejamkan matanya. Tiba-tiba saja hatinya merasa rindu kepada kedua orang tuanya, sebab sejak bayi tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari ayah ibunya. Ia lalu menghampiri kakak sulungnya dan bertanya, “Kak Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kenapa mereka tidak pernah datang kemari?”<br /><br />Karena tidak ingin membuat Si Bungsu bersedih, maka Saku menjawab, “Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku!. Suatu saat mereka akan pulang membawa makanan yang lezat-lezat untuk kita.”<br /><br />Dongengan Saku ternyata membuat hati Si Bungsu menjadi tenteram kembali. Ia akhirnya tertidur pulas di samping kakaknya. Tetapi kini giliran Si Saku yang tidak dapat memejamkan mata karena sedih melihat Si Bungsu yang tidak pernah sekalipun bertemu orang tuanya. Ia lalu mengambil serulingnya dan berjalan ke arah bukit yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.<br /><br />Sesampai di atas bukit, sambil menangis dan memandang langit ia pun berkata, “Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami.”<br /><br />Kemudian, ia mulai meniup seluring sambil sambil menyanyikan lagu kesukaannya.<br /><br /><blockquote class="tr_bq"><i>Ama ma aim honi (Ayah dan Ibu)<br />Kios man ho an honi (Lihatlah anakmu yang datang)<br />Nem nek han a amnaut (Membawa setumpuk kerinduan)<br />Masi ho mu lo’o (Walau kamu jauh)<br />Au fe toit nek amanekat (Aku butuh sentuhan kasihmu)<br />Masi hom naoben me au toit (Walau kalian teah tiada, aku minta)<br />Ha ho mumaof kau ma hanik kau (Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki)</i></blockquote><br />Saat sedang menghayat lagu tersebut, tanpa sepengetahuannya kedua roh orang tuanya turun dari langit. Melalui angin malam, roh Sang Ayah berkata, “Anakku, aku dan ibumu mendengarmu. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, kami akan selalu bersama kalian.”<br /><br />Saku menjadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun, sebelum sempat pulih dari keterkejutannya, tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi.<br /><br />“Anakku, esok hari sebelum ayam berkokok ajaklah adik-adikmu menemui kami di tempat ini. Selain itu, engkau juga harus membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan kurban!”<br /><br />Singkat cerita, keesokan harinya ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati Si Bungsu mendengar cerita Si Saku. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukan.<br /><br />Tepat tengah malam Saku bersama kedua adiknya berangkat menuju ke puncak bukit sambil membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orang tua mereka. Setelah mereka tiba di puncak bukit, tiba-tiba angin bertiup kencang yang membuat pepohonan di sekitarnya meliuk-liuk seperti sedang menari.<br /><br />Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tba terlihat dua sosok bayangan berjalan menghampiri mereka.<br /><br />“Ayah, Ibu!” seru Saku dan Abatan saat melihat bayangan itu.<br /><br />Mengerti bahwa kedua sosok itu adalah orangtuanya, Si Bungsu segera berlari ke salah satu sosok dan memeluknya erat-erat sambil berkata, “Ibu, saya sangat merindukanmu.”<br /><br />“Kami juga sangat merindukanmu,” jawab Sang Ibu singkat.<br /><br />Kemudian Sang Ayah membawa isteri dan ketiga anaknya menuju ke dasar jurang. Sesampainya di sana, ia lalu menyuruh Si Seko untuk segera menyembelih ayam jantan merah yang dibawanya. Saat darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba ada dua ekor babi yang gemuk muncul di tengah-tengah mereka. Mereka segera mendekati kedua ekor babi tersebut dan mengelus-elusnya.<br /><br />Selang beberapa menit kemudian ayam jantan mulai berkokok yang menandai datangnya pagi. Pada saat yang bersamaan bayangan kedua orang tua mereka tiba-tiba memudar dan akhirnya lenyap. Menyadari bahwa hari telah pagi ketiga bersaudara tersebut segera mengiring babi pemberian orang tua mereka menuruni bukit menuju ke rumah. Dan, mulai sejak saat itu mereka pun mulai memelihara babi untuk diternakkan. Selain itu, untuk mengenang peristiwa pertemuan tersebut mereka kemudan menamakan bukit itu dengan nama Bukit Fafinesu yang berarti Bukit Babi Gemuk.<br /><br /><div style="text-align: center;">========</div><div style="text-align: center;"><br /></div><b><br /></b><b>Sumber:</b><br /><span style="font-size: x-small;">Diadaptasi secara bebas dari&nbsp;</span><span style="font-size: x-small;">ht*p://sayaindonesia.com/</span><span style="font-size: x-small;">ht*p://asalusulnusantara.wordpress.com/2012/04/29/legenda-bukit-fafinesu-cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur/</span><br /><span style="font-size: x-small;"><br /></span><span style="font-size: x-small;"><br /></span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/d9RRDbY0dAk" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/bukit-fafinesu.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-39136537902769644732013-02-18T01:35:00.000-08:002013-02-18T01:35:08.009-08:00Putri Tandampalik<br /><b><span style="color: #660000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Luwuk </span></b><br /><br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-hmwCIwwM2f4/USHy0dCIecI/AAAAAAAAoyw/JQaQh7IE67M/s1600/Putri+Tandampalik.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="250" src="http://1.bp.blogspot.com/-hmwCIwwM2f4/USHy0dCIecI/AAAAAAAAoyw/JQaQh7IE67M/s320/Putri+Tandampalik.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #ffe599; font-size: x-large;">D</span>ahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama negeri Luwu, yang terletak di pulau Sulawesi. Negeri Luwu dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Busatana Datu Maongge, sering dipanggil Raja atau Datu Luwu. Karena sikapnya yang adil, arif dan bijaksana, maka rakyatnya hidup makmur.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sebagian besar pekerjaan rakyat Luwu adalah petani dan nelayan. Datu Luwu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik, namanya Putri Tandampalik. Kecantikan dan perilakunya telah diketahui orang banyak. Termasuk di antaranya Raja Bone yang tinggalnya sangat jauh dari Luwu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Raja Bone ingin menikahkan anaknya dengan Putri Tandampalik. Ia mengutus beberapa utusannya untuk menemui Datu Luwu untuk melamar Putri Tandampalik. Datu Luwu menjadi bimbang, karena dalam adatnya, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Tetapi, jika lamaran tersebut ditolak, ia khawatir akan terjadi perang dan akan membuat rakyat menderita. Meskipun berat akibat yang akan diterima, Datu Lawu memutuskan untuk menerima pinangan itu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span> <span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Biarlah aku dikutuk asal rakyatku tidak menderita," pikir Datu Luwu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Beberapa hari kemudian utusan Raja Bone tiba ke negeri Luwu. Mereka sangat sopan dan ramah. Tidak ada iringan pasukan atau armada perang di pelabuhan, seperti yang diperkirakan oleh Datu Luwu. Datu Luwu menerima utusan itu dengan ramah. Saat mereka mengutarakan maksud kedatangannya, Datu Luwu belum bisa memberikan jawaban menerima atau menolak lamaran tersebut. Utusan Raja Bone memahami dan mengerti keputusan Datu Luwu. Mereka pun pulang kembali ke negerinya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-Bk9Pmag1wxc/USHzWadA3BI/AAAAAAAAoy4/ybmSU7Cw1Mo/s1600/Putri+Tandampalik.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="304" src="http://4.bp.blogspot.com/-Bk9Pmag1wxc/USHzWadA3BI/AAAAAAAAoy4/ybmSU7Cw1Mo/s320/Putri+Tandampalik.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, terjadi kegaduhan di negeri Luwu. Putri Tandampalik jatuh sakit. Sekujur tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Para tabib istana mengatakan Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang berbahaya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Berita cepat tersebar. Rakyat negeri Luwu dirundung kesedihan. Datu Luwu yang mereka hormati dan Putri Tandampalik yang mereka cintai sedang mendapat musibah. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan anaknya. Karena banyak rakyat yang akan tertular jika Putri Tandampalik tidak diasingkan ke daerah lain.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keputusan itu dipilih Datu Luwu dengan berat hati. Putri Tandampalik tidak berkecil hati atau marah pada ayahandanya. Lalu ia pergi dengan perahu bersama beberapa pengawal setianya. Sebelum pergi, Datu Luwu memberikan sebuah keris pada Putri Tandampalik, sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan apalagi membuang anaknya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-2Ose7xtEMS4/USHzqrrF5bI/AAAAAAAAozA/j5Ib2WRofbQ/s1600/Putri+Tandampalik.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="299" src="http://4.bp.blogspot.com/-2Ose7xtEMS4/USHzqrrF5bI/AAAAAAAAozA/j5Ib2WRofbQ/s320/Putri+Tandampalik.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan, akhirnya mereka menemukan sebuah pulau. Pulau itu berhawa sejuk dengan pepohonan yang tumbuh dengan subur. Seorang pengawal menemukan buah Wajo saat pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Pulau ini kuberi nama Pulau Wajo," kata Putri Tandampalik. Sejak saat itu, Putri Tandampalik dan pengikutnya memulai kehidupan baru. Mereka mulai dengan segala kesederhanaan. Mereka terus bekerja keras, penuh dengan semangat dan gembira.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari Putri Tandampalik duduk di tepi danau. Tiba-tiba seekor kerbau putih menghampirinya. Kerbau bule itu menjilatinya dengan lembut. Semula, Putri Tandampalik hendak mengusirnya. Tapi, hewan itu tampak jinak dan terus menjilatinya. Akhirnya ia diamkan saja. Ajaib! Setelah berkali-kali dijilati, luka berair di tubuh Putri Tandampalik hilang tanpa bekas. Kulitnya kembali halus dan bersih seperti semula. Putri Tandampalik terharu dan bersyukur pada Tuhan, penyakitnya telah sembuh.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Sejak saat ini kuminta kalian jangan menyembelih atau memakan kerbau bule, karena hewan ini telah membuatku sembuh," kata Putri Tandampalik pada para pengawalnya. Permintaan Putri Tandampalik itu langsung dipenuhi oleh semua orang di Pulau Wajo hingga sekarang. Kerbau bule yang berada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Di suatu malam, Putri Tandampalik bermimpi didatangi oleh seorang pemuda yang tampan. "Siapakah namamu dan mengapa putri secantik dirimu bisa berada di tempat seperti ini?" tanya pemuda itu dengan lembut. Lalu Putri Tandampalik menceritakan semuanya. "Wahai pemuda, siapa dirimu dan dari mana asalmu ?" tanya Putri Tandampalik. Pemuda itu tidak menjawab, tapi justru balik bertanya, "Putri Tandampalik maukah engkau menjadi istriku?" Sebelum Putri Tandampalik sempat menjawab, ia terbangun dari tidurnya. Putri Tandampalik merasa mimpinya merupakan tanda baik baginya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-7mbYqLJNtw4/USH0ZlWeFJI/AAAAAAAAozI/fMnMpMzKkbs/s1600/Putri+Tandampalik.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="291" src="http://4.bp.blogspot.com/-7mbYqLJNtw4/USH0ZlWeFJI/AAAAAAAAozI/fMnMpMzKkbs/s320/Putri+Tandampalik.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sementara, nun jauh di Bone, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu. Ia ditemani oleh Anre Guru Pakanranyeng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Saking asyiknya berburu, Putra Mahkota tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongan dan tersesat di hutan. Malam semakin larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya. Suara-suara hewan malam membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di kejauhan, ia melihat seberkas cahaya. Ia memberanikan diri untuk mencari dari mana asal cahaya itu. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah perkampungan yang letaknya sangat jauh. Sesampainya di sana, Putra Mahkota memasuki sebuah rumah yang nampak kosong. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air di dalam rumah itu. Gadis cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Mungkinkah ada bidadari di tempat asing begini ?" pikir putra Mahkota. Merasa ada yang mengawasi, Putri Tandampalik menoleh. Sang Putri tergagap," rasanya dialah pemuda yang ada dalam mimpiku," pikirnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri Tandampalik merasa pemuda yang kini berada di hadapannya adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya. Meski ia seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis yang anggun tetapi tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsing menaruh hati.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah beberapa hari tinggal di desa tersebut, Putra Mahkota kembali ke negerinya karena banyak kewajiban yang harus diselesaikan di Istana Bone. Sejak berpisah dengan Putri Tandampalik, ingatan sang Pangeran selalu tertuju pada wajah cantik itu. Ingin rasanya Putra Mahkota tinggal di Pulau Wajo.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Anre Guru Pakanyareng, Panglima Perang Kerajaan Bone yang ikut serta menemani Putra Mahkota berburu, mengetahui apa yang dirasakan oleh anak rajanya itu. Anre Guru Pakanyareng sering melihat Putra Mahkota duduk berlama-lama di tepi telaga. Maka Anre Guru Pakanyareng segera menghadap Raja Bone dan menceritakan semua kejadian yang mereka alami di pulau Wajo. "Hamba mengusulkan Paduka segera melamar Putri Tandampalik," kata Anre Guru Pakanyareng. Raja Bone setuju dan segera mengirim utusan untuk meminang Putri Tandampalik.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika utusan Raja Bone tiba di Pulau Wajo, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahandanya ketia ia di asingkan. Putri Tandampalik mengatakan bila keris itu diterima dengan baik oleh Datu Luwu berarti pinangan diterima.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putra Mahkota segera berangkat ke Kerajaan Luwu sendirian. Perjalanan berhari-hari dijalani oleh Putra Mahkota dengan penuh semangat. Setelah sampai di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-TuiliVySjQc/USH1Ko9BTwI/AAAAAAAAozQ/aKIqrRJ8Ja0/s1600/Putri+Tandampalik.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="303" src="http://1.bp.blogspot.com/-TuiliVySjQc/USH1Ko9BTwI/AAAAAAAAozQ/aKIqrRJ8Ja0/s320/Putri+Tandampalik.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu Luwu merasa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat. Maka ia pun menerima keris pusaka itu dengan tulus.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tanpa menunggu lama, Datu Luwu dan permaisuri datang mengunjungi pulau Wajo untuk bertemu dengan anaknya. Pertemuan Datu Luwu dan anak tunggal kesayangannya sangat mengharukan. Datu Luwu merasa bersalah telah mengasingkan anaknya. Tetapi sebaliknya, Putri Tandampalik bersyukur karena rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang dideritanya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Akhirnya Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Bone dan dilangsungkan di Pulau Wajo. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Beliau menjadi raja yang arif dan bijaksana.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber : http://www.e-smartschool.com</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/PWMZRu9L4ok" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/putri-tandampalik.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-62725050941051226792013-02-17T00:46:00.001-08:002013-02-17T01:00:20.345-08:00Hikayat Bunga Kemuning<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><br /><div><br /></div><div><div><span style="color: #660000; font-family: inherit; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Indonesia</b></span><br /><span style="color: #660000; font-family: inherit; font-size: large;"><b><br /></b></span><br /><table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"><tbody><tr><td style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-_4M3sPI2iug/USCbdW73iuI/AAAAAAAAoq8/kvKjmsqmzPc/s1600/bunga+kemuning.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img border="0" height="267" src="http://3.bp.blogspot.com/-_4M3sPI2iug/USCbdW73iuI/AAAAAAAAoq8/kvKjmsqmzPc/s400/bunga+kemuning.jpg" width="400" /></a></td></tr><tr><td class="tr-caption" style="text-align: center;"><b><span style="font-size: large;">Kemuning -&nbsp;<i style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Geneva, 'Trebuchet MS', Lucida, Arial, sans-serif;">Murraya paniculata</i><span style="background-color: white; color: #4c4c4c; font-family: Geneva, 'Trebuchet MS', Lucida, Arial, sans-serif;">&nbsp;L.&nbsp;Jack</span></span></b></td></tr></tbody></table><span style="font-family: inherit;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-LyvqZbnvNi0/USCSg6cJbuI/AAAAAAAAopo/A-s1rDEpv6w/s1600/hikayat+bunga+kemuning.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-LyvqZbnvNi0/USCSg6cJbuI/AAAAAAAAopo/A-s1rDEpv6w/s320/hikayat+bunga+kemuning.gif" width="305" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="color: #f6b26b; font-size: x-large;"><i>D</i></span>ahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning,&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/--iR5NIcshsM/USCTpXZyeuI/AAAAAAAAop0/4oeY_EApqFs/s1600/hikayat+bunga+kemuning.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/--iR5NIcshsM/USCTpXZyeuI/AAAAAAAAop0/4oeY_EApqFs/s320/hikayat+bunga+kemuning.gif" width="311" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-qWyucWCCmHY/USCUjJLWKAI/AAAAAAAAoqA/xzZ1AsOQ5a8/s1600/hikayat+bunga+kemuning.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-qWyucWCCmHY/USCUjJLWKAI/AAAAAAAAoqA/xzZ1AsOQ5a8/s320/hikayat+bunga+kemuning.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-S_66KHbEZ_E/USCVq0L0gyI/AAAAAAAAoqM/C5JsnNvyOmI/s1600/hikayat+bunga+kemuning.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-S_66KHbEZ_E/USCVq0L0gyI/AAAAAAAAoqM/C5JsnNvyOmI/s320/hikayat+bunga+kemuning.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-P1PUoVp_baE/USCW_FJv_EI/AAAAAAAAoqk/iQHS_yn86Lw/s1600/hikayat+bunga+kemuning.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-P1PUoVp_baE/USCW_FJv_EI/AAAAAAAAoqk/iQHS_yn86Lw/s320/hikayat+bunga+kemuning.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b>Moral :</b>Kebaikan akan membuahkan hal-hal yang baik, walaupun kejahatan sering kali menghalanginya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber :&nbsp;http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=78&amp;Itemid=49</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div></div></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/zApcOa50peM" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/hikayat-bunga-kemuning.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-15359160064418020092013-02-17T00:10:00.000-08:002013-02-17T00:10:44.630-08:00Asal Usul Kota Banyuwangi<script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div><br /></div><div><b><span style="color: #660000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Banyuwangi</span></b></div><div><b><span style="color: #660000; font-size: x-small;">Genre : Legenda</span></b></div><div><br /></div><div><br /></div><div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b><span style="background-color: #cfe2f3; font-size: x-large;">P</span></b>ada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-deyNOQ8okF8/USCOFn1yabI/AAAAAAAAoo4/fFOjsz2mz7w/s1600/asal+usul+banyuwangi.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-deyNOQ8okF8/USCOFn1yabI/AAAAAAAAoo4/fFOjsz2mz7w/s320/asal+usul+banyuwangi.gif" width="315" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-rWjT4U4I2EE/USCOt9cOsOI/AAAAAAAAopA/cA2yhxf28ZE/s1600/asal+usul+banyuwangi.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-rWjT4U4I2EE/USCOt9cOsOI/AAAAAAAAopA/cA2yhxf28ZE/s320/asal+usul+banyuwangi.gif" width="313" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-rwXRpDBCBLQ/USCPc2AyzRI/AAAAAAAAopI/iR4Erij8O-M/s1600/asal+usul+banyuwangi.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-rwXRpDBCBLQ/USCPc2AyzRI/AAAAAAAAopI/iR4Erij8O-M/s320/asal+usul+banyuwangi.gif" width="313" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-eXpPAhVn8S0/USCP52D4AdI/AAAAAAAAopQ/viI5ZMCXMpo/s1600/asal+usul+banyuwangi.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-eXpPAhVn8S0/USCP52D4AdI/AAAAAAAAopQ/viI5ZMCXMpo/s320/asal+usul+banyuwangi.gif" width="308" /></a></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolak!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong..&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati.&nbsp;</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b>Moral :</b> Jangan mudah terhasut oleh ucapan orang, karena sesal kemudian tidak akan merubah hal yang telah terjadi.</span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;">Sumber : Elexmedia</span></div></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;"><br /></span></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/FMOR_6PSJHw" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comBanyuwangi Regency, Indonesia-8.2102562 114.3735107-8.3359722 114.2121492 -8.0845402 114.5348722http://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/asal-usul-kota-banyuwangi.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-40813794864627665832013-02-16T23:49:00.003-08:002013-02-16T23:51:46.913-08:00Calon Arang<div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <br /><div><div><span style="color: #660000; font-family: inherit; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Jawa Timur</b></span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b><span style="font-size: x-large;"><i style="background-color: #d9ead3;">P</i></span></b>ada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-NqVmjk7Qupc/USCJY4I7SGI/AAAAAAAAooI/Tixe76ojdOA/s1600/calon+arang.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-NqVmjk7Qupc/USCJY4I7SGI/AAAAAAAAooI/Tixe76ojdOA/s320/calon+arang.gif" width="307" /></span></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he... siapa yang berani melawan Calon Arang ? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-WzV24sdoxeQ/USCKGdMGdVI/AAAAAAAAooQ/28-gqkm-S1o/s1600/calon+arang.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-WzV24sdoxeQ/USCKGdMGdVI/AAAAAAAAooQ/28-gqkm-S1o/s320/calon+arang.gif" width="307" /></span></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://4.bp.blogspot.com/-Jm89_0TOq5o/USCKrDQGuCI/AAAAAAAAooY/Gqr4XFWs7vY/s1600/calon+arang.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-Jm89_0TOq5o/USCKrDQGuCI/AAAAAAAAooY/Gqr4XFWs7vY/s320/calon+arang.gif" width="307" /></span></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-rTDGBxW1rII/USCLRzJ93JI/AAAAAAAAoog/9B5g2YbK540/s1600/calon+arang.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-rTDGBxW1rII/USCLRzJ93JI/AAAAAAAAoog/9B5g2YbK540/s320/calon+arang.gif" width="313" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b>Moral :</b> Calon Arang merupakan contoh seorang yang memiliki sifat pemarah dan tidak dapat menguasai nafsunya. Hendaknya seseorang tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci orang lain. Karena pemaksaan kehendak akan berakibat buruk bagi diri sendiri.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;">Sumber :http://www.elexmedia.co.id/</span></div></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span></div><div><br /></div><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/SEpQ3RIPpnM" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/calon-arang.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-65003092205617461552013-02-16T00:50:00.000-08:002013-02-16T00:50:08.374-08:00Putri Embun (Feto Kamun)<b><span style="font-size: large;"><br /></span></b><b><span style="font-size: large;">Cerita Rakyat dari Timor Timur</span></b><br />diceritakan kembali oleh Nyoman Suarjana<br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-4UQ-iyT42Pc/URnoe2NkCaI/AAAAAAAAn-U/P4haJIYr6TY/s1600/embun.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="370" src="http://1.bp.blogspot.com/-4UQ-iyT42Pc/URnoe2NkCaI/AAAAAAAAn-U/P4haJIYr6TY/s640/embun.jpg" width="640" /></a></div><br /><span style="background-color: #c27ba0; font-size: x-large;">A</span>lkisah ada seorang raja memerintah kerajaan besar. Dia memerintah dengan sangat adil dan bijaksana. Sang raja menikah dengan seorang gadis yang sangat cantik.<br /><br />Pada suatu hari, raja ingin berburuh. Dia memerintahkan kepada para abdinya untuk menyiapkan semua keperluan berburuh. Setelah siap semua, berangkatlah mereka ke hutan. Mereka mengejar dan membunuh babi hutan dan rusa yang mereka jumpai.<br /><br />Malam harinya mereka masih berada di hutan sehingga menyuruh para abdi untuk mendirikan kemah perkemahan sambil menunggu fajar.<br /><br />Tengah malam raja mendengar jeritan seseorang dari kejauhan. Dia berpikir, tidak mungkin itu suara manusia, mungkin saja suara binatang buas. Raja tidak berani membuktikan suara itu karena takut diterkam binatang buas. Makin lama jeritan itu makin keras, tetapi raja hanya menunggu pagi tiba.<br /><br />Pada saat burung <i>berliku</i> berkicau, raja bangun dan pergi ke arah datangnya jeritan tanpa sepengetahuan abdi-abdinya. Dia terkejut melihat seorang putri sedang mengerang kesakitan dalam semak belukar. Raja segera turun dari kuda dan mengangkat putri itu. Selama hidupnya, raja belum pernah melihat putri secantik itu. Raja mengangkat putri itu dan menaikkannya ke atas kuda. Wajah putri itu dipenuhi tetesan embun yang membuat wajahnya kian cantik.<br /><br />Sampai di perkemahan, raja memerintahkan para abdi untuk membuat api unggun agar putri dapat menghangatkan tubuhnya. Sambil menghangatkan badan, raja bertanya, "Adikku sayang, mengapa kamu menangis sepanjang malam dalam semak belukar?".<br /><br />Putri itu menjawab, "Saya kedinginan sepanjang malam. Saya sangat berterimakasih atas bantuan Tuan".<br /><br />Menjelang tengah hari mereka mempersiapkan diri untuk kembali ke istana. Sang putri menunggang kuda bersama raja. &nbsp;Para abdi membawah semua hasil buruan.<br /><br />Sampai di istana, raja meletakkan sang putri di pangkuan permaisuri. Putri itu di angkat anak oleh raja dan di beri nama Feto Kamun karena kulitnya putih bagaikan embun dan terang bagaikan sinar matahari.<br /><br />Hari dan bulan berlalu, bulan berganti tahun, sang putri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Karena sang putri begitu cantik, permaisuri merasa iri kepada anak angkatnya. Untuk membuktikan apakah Putri Embun lebih cantik dari dirinya permaisuri mengambil cermin ajaib peninggalan leluhurnya.<br /><br />Permaisuri bertanya kepada cermin itu, "Cermin ajaibku, siapakah lebih cantik, aku atau Putri Embun?".<br /><br />Cermin itu menjawab, "Permaisuri memang cantik, tapi Putri Embun lebih cantik". Permaisuri sangat marah mendengar jawaban cermin.<br /><br />Pada suatu hari permaisuri memperoleh kesempatan untuk meracuni Putri Embun dengan jalan memasukkan racun ke dalam pisang yang akan dimakan Putri Embun. Tanpa pikir panjang, Putri Embun mengambil dan memakan pisang itu. &nbsp;Baru saja pisang itu sampai di kerongkongannya, dia langsung pingsan. Tidak lama kemudian, dia meninggal. Pisang itu masih ada dalam kerongkongannya.<br /><br />Permaisuri merasa gembira karena rencananya berhasil. Dia melaporkan kematian Putri Embun kepada raja sambil mengatakan bahwa Putri Embun meninggal karena sakit yang telah lama di deritanya.<br /><br />Raja sangat sedih atas kematian anak angkatnya itu. Dia tidak mengizinkan sang putri dikuburkan. Raja menyuruh abdinya membuat peti kaca untuk jasad putrinya. Peti kaca berisi jasad sang putri di naikkan ke atas punggung kuda yang telah di jinakkan yang akan membawahnya ke mana saja.<br /><br />Setelah beberapa lama berjalan, kuda itu bertemu dengan kuda liar. Mereka saling menyerang sehingga peti jatuh dan hancur berkeping-keping. Kedua binatang itu menyentuh tubuh Putri Embun sehingga pisang yang tersangkut di kerongkongannya keluar. Putri Embun lansung sadarkan diri dan kembali hidup seperti sedia kala. Kemudian, dia kembali ke istana.<br /><br />Raja sangat senang karena Putri Embun hidup kembali, tetapi tidak demikian halnya dengan permaisuri. Dia memikirkan lagi bagaimana caranya membunuh Putri Embun.<br /><br />Pada suatu hari ada seorang pedagang sepatu melewati istana. Semua sepatu yang dijualnya berbeda dengan sepatu yang dijual orang lain. Sepatu itu mengandung racun. Siapa saja yang memakai sepatu itu, akan mati seketika. Permaisuri sangat senang dengan sepatu yang ditawarkan pedagang itu.<br /><br />Permaisuri segera membeli sepatu itu dan memberikannya kepada anak angkatnya. Dengan senang hati Putri Embun menerima sepatu itu. Baru saja sepatu itu dicoba, Putri Embun langsung lemas dan mati. Seperti kejadian pertama, jasad Putri Embun dimasukkan ke dalam peti kaca lalu di naikkan ke atas kuda, dan dilepas di semak belukar. Setiap hari kuda itu berjalan menjauhi istana.<br /><br />Pada suatu hari, seorang Pangeran yang cakap dan berbudi baik sedang menunggang kuda. Dia melihat kuda yang membawa jasad Putri Embun. Apa yang di bawa kuda itu? Peti itu sangat indah, mungkin saja ada barang berharga di dalamnya, pikir Pangeran. Dia mendekati kuda yang jinak itu, lalu menurunkan peti dari punggungnya. Dengan sangat hati hati peti di buka. Ia terkejut ketika melihat seorang putri cantik berbaring di dalamnya. Wajah putri itu tidak berubah &nbsp;walaupun sudah lama meninggal.<br /><br />Pangeran memperhatikan putri itu dengan seksama. Lantas, terlihatlah sepatu yang dipakai &nbsp;putri sangat berbeda dengan sepatu hiasa. Sepatu itu lalu di lepas, seketika itu juga Putri Embun hidup kembali dan langsung duduk. Lalu, sang Pangeran menanyakan kejadian yang menimpa sang Putri. Putri pun meceritakan semua kejadian yang dialaminya. Pangeran terharu mendengar kisah Putri Embun dan bertekad untuk mengambil Putri Embun sebagai pasangan hidupnya. Putri Embun menerima lamaran itu. Setelah beristirahat, mereka menunggang kuda menuju kediaman Pangeran.<br /><br />Pangeran memperkenalkan Putri Embun kepada kerabat dan teman-temannya. Dia mengatakan bahwa dia akan meminang Putri Embun. Mereka merestui keinginan Pangeran untuk meminang Putri Embun.<br /><br />Pada upacara perkawinan, mereka menyambut Pangeran dan Putri Embun dengan tari-tarian. Orang-orang terkenal mereka undang untuk menghadiri upacara perkawinan itu. Bapak dan ibu angkat Putri Embun juga hadi pada upacara itu. Ibu angkat Putri Embun merasa malu dan gusar.<br /><br />Setelah pesta berakhir, ibu angkat Putri Embun langsung bunuh diri karena tidak tahan menahan rasa malu.<br /><br />Akhirnya, Putri Embun dan Pangeran hidup damai dan sejahtera di tempat yang nyaman. Mereka memerintah dengan adil dan bijaksana.<br /><br /><br /><div style="text-align: center;">============</div><br /><br /><b><span style="font-size: large;">Kesimpulan :</span></b><br />Cerita ini dapat digolong kedalam dongeng karena ada hal-hal tidak masuk akal. Misalnya Putri Embun yang sudah diracun berkali-kali , bahkan sudah mati, akhirnya hidup kembali.<br /><br />Akan tetapi cerita ini mengandung ajaran moral, yaitu kebenaran pasti menang dari kejahatan.<br /><br />Putri Embun adalah tokoh yang mempunyai sifat jujur dan pasrah menerima nasib, sedangkan permaisuri adalah tokoh yang mempunyai sifat dengki, iri hati, senang berbuat curang. Akhirnya, orang yang senang berbuat curang akan menemui ajalnya, sedangkan orang yang berbuat jujur akan mendapatkan kebahagiaan.<br /><br /><br /><span style="font-size: xx-small;"><br /></span><span style="font-size: xx-small;"><b>Sumber</b> :&nbsp;http://books.google.co.id/books?id=VvXPqDPVR88C&amp;pg=PA18&amp;lpg=PA18&amp;dq=dongeng+timor&amp;source=bl&amp;ots=UQPUgxT52F&amp;sig=F2eYd5TGN9vn1egmBCRA67U71LU&amp;hl=en&amp;sa=X&amp;ei=-NUZUf3xGoySiQf874CAAg&amp;redir_esc=y#v=onepage&amp;q=dongeng%20timor&amp;f=false</span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/MRmBy240KH8" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/putri-embun-feto-kamun.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-17867021708845649822013-02-15T23:47:00.002-08:002013-02-15T23:49:04.998-08:00Aji Saka<span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b><br /></b></span><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Jawa</b></span><br /><span style="color: #660000; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: x-small;">Genre : Dongeng</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-i7DQfgi7yTI/UR84c80hXaI/AAAAAAAAol4/tScRJEMGtyg/s1600/aji+saka.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="289" src="http://2.bp.blogspot.com/-i7DQfgi7yTI/UR84c80hXaI/AAAAAAAAol4/tScRJEMGtyg/s320/aji+saka.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="background-color: #d9ead3; font-size: x-large;"><i>D</i></span>ahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="color: white;"><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber:http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=84&amp;Itemid=49</span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">&nbsp;</span></span><br /><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script> <div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/NT5FYNmEppQ" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/aji-saka.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-82632613614360779552013-02-15T23:30:00.000-08:002013-02-15T23:30:08.732-08:00Cindelaras<div><br /><span style="color: #660000; font-size: large;"><b>Cerita Rakyat dari Jawa Timur</b></span></div><div><br /><br /></div><div><br /></div><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-SsNbIWKEUrs/UR8Xd-aSO_I/AAAAAAAAojQ/tNk2-pxrVUA/s1600/cindelaras1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="313" src="http://2.bp.blogspot.com/-SsNbIWKEUrs/UR8Xd-aSO_I/AAAAAAAAojQ/tNk2-pxrVUA/s320/cindelaras1.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b><span style="font-size: x-large;"><i style="background-color: #b6d7a8;">R</i></span></b>aden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja mengangguk puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-8O1k_CV9qtY/UR8YLy1OS6I/AAAAAAAAojY/yt-ahUxi0Mo/s1600/cindelaras1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="315" src="http://3.bp.blogspot.com/-8O1k_CV9qtY/UR8YLy1OS6I/AAAAAAAAojY/yt-ahUxi0Mo/s320/cindelaras1.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.”&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://1.bp.blogspot.com/-Y8cByiqq7cc/UR8ZAzmMIfI/AAAAAAAAojk/izbW8nG8iG4/s1600/cindelaras1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="309" src="http://1.bp.blogspot.com/-Y8cByiqq7cc/UR8ZAzmMIfI/AAAAAAAAojk/izbW8nG8iG4/s320/cindelaras1.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…” Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah,” jawab Cindelaras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.&nbsp; </span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.</span><br /><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-c1-990ZKE18/UR8Z53Vg3KI/AAAAAAAAojw/GEXxK1NC_XU/s1600/cindelaras1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-c1-990ZKE18/UR8Z53Vg3KI/AAAAAAAAojw/GEXxK1NC_XU/s320/cindelaras1.gif" width="307" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">“Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.&nbsp; </span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;">Sumber: <a href="http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=89&amp;Itemid=49" target="_blank"><span style="color: white;">www.e-smartschool.com</span></a></span><br /><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-hakzn7r4nXI/UR8b3M-eZVI/AAAAAAAAokI/-Qcg643I4Ts/s1600/dongeng+anak+indonesia.jpg" imageanchor="1" style="background-color: white; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="100" src="http://3.bp.blogspot.com/-hakzn7r4nXI/UR8b3M-eZVI/AAAAAAAAokI/-Qcg643I4Ts/s200/dongeng+anak+indonesia.jpg" width="100" /></a></div><span style="color: white; font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/0r2Ni56jMkA" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/cindelaras.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-33965868508375816642013-02-15T23:22:00.000-08:002013-02-15T23:23:05.704-08:00Timun Mas<b><span style="color: #660000; font-size: large;"><br /></span></b><b><span style="color: #660000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Jawa </span></b><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><br /><span style="color: #660000; font-size: x-small;">Genre : Dongeng</span><br /><br /><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif;"><b><span style="font-size: x-large;"><i style="background-color: #fce5cd;">M</i></span></b><span style="font-size: large;">bok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.</span></span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-22YktrJGpp4/UR8xfPMmNOI/AAAAAAAAolQ/4NoEgHq3KH4/s1600/Timun+mas.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="249" src="http://2.bp.blogspot.com/-22YktrJGpp4/UR8xfPMmNOI/AAAAAAAAolQ/4NoEgHq3KH4/s320/Timun+mas.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-U5jZqteUGfA/UR8yO2-MiiI/AAAAAAAAolY/gOM8Fzsw2NM/s1600/Timun+mas.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="309" src="http://2.bp.blogspot.com/-U5jZqteUGfA/UR8yO2-MiiI/AAAAAAAAolY/gOM8Fzsw2NM/s320/Timun+mas.gif" width="320" /></a></div><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-size: large;">Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang oleh Mbok sirni.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/-PC22a4plYTE/UR8ynTRLhMI/AAAAAAAAolg/zUd34bOm_mk/s1600/Timun+mas.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-PC22a4plYTE/UR8ynTRLhMI/AAAAAAAAolg/zUd34bOm_mk/s320/Timun+mas.gif" width="316" /></a></div><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bungkusan garam dan ditaburkannya.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.</span><br /><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;"><br /></span><span style="font-family: Trebuchet MS, sans-serif; font-size: large;">" Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.</span><br /><br /><span style="color: white;">sumber : http://www.e-smartschool.com</span><br /><br /><br /><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/-E91SEIuZPE" height="1" width="1"/>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semuahttp://www.blogger.com/profile/09829663715291658776noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/timun-emas.htmltag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-57477902749172985452013-02-15T22:11:00.000-08:002013-02-15T22:11:52.126-08:00Telaga Bidadari<br /><b><span style="color: #660000; font-size: large;">Cerita Rakyat dari Kalimantan Selatan</span></b><br /><span style="color: #660000; font-size: x-small;">Desa Pematang Gadung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan</span><br /><br /><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-KWV5JuChP54/UR8TJql4RRI/AAAAAAAAoik/3WCcgRlG-Sg/s1600/telaga+bidadari1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-KWV5JuChP54/UR8TJql4RRI/AAAAAAAAoik/3WCcgRlG-Sg/s320/telaga+bidadari1.gif" width="313" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-large;"><b><i style="background-color: #f9cb9c;">D</i></b></span>ahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-xJdsznEuklw/UR8TqcweEII/AAAAAAAAois/E7_Sux6MarY/s1600/telaga+bidadari1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-xJdsznEuklw/UR8TqcweEII/AAAAAAAAois/E7_Sux6MarY/s320/telaga+bidadari1.gif" width="309" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">"Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-3rVpMbKdMA8/UR8T84MVw2I/AAAAAAAAoi0/v0X5Zc1_db4/s1600/telaga+bidadari1.gif" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-3rVpMbKdMA8/UR8T84MVw2I/AAAAAAAAoi0/v0X5Zc1_db4/s320/telaga+bidadari1.gif" width="305" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya.&nbsp;</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><br /><div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://2.bp.blogspot.com/-wUnt4W4sInw/UR8Ue_LJZkI/AAAAAAAAoi8/wPmu0-F3Bsg/s1600/telaga+bidadari1.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-wUnt4W4sInw/UR8Ue_LJZkI/AAAAAAAAoi8/wPmu0-F3Bsg/s320/telaga+bidadari1.gif" width="303" /></a></div><span style="font-family: Verdana, sans-serif;">Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menatap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.</span><br /><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><br /></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><b>Pesan moral </b>: Legenda Telaga Bidadari mengajarkan kita, jika kita menginginkan sesuatu hendaknya dengan cara halal. Kita tidak boleh mencuri, merampok harta milik orang lain, karena sewaktu-waktu dapat menjadi batu sandungan dalam meraih cita-cita. Kitapun tidak boleh menyimpan perbuatan busuk, karena pada suatu saat akan ketahuan juga.</span><br /><script type="text/javascript"> var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-37751230-2']); _gaq.push(['_setDomainName', 'folktalesnusantara.blogspot.com']); _gaq.push(['_setAllowLinker', true]); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); </script><div class="blogger-post-footer">Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/FK9bHSBP9FA" height="1" width="1"/>Tun Janghttps://plus.google.com/108519057561339340470noreply@blogger.comhttp://folktalesnusantara.blogspot.com/2013/02/telaga-bidadari.html